Keseimbangan antara Logika dan Perasaan


Selama ini beberapa dari kita sering dihadapkan dengan fakta bahwa dalam kehidupan ini terkadang kita harus menggunakan logika dalam berpikir tanpa memahami emosi atau perasaan kita dan orang lain. Disamping itu, sebaliknya, beberapa orang juga sering kali lebih mengikuti perasaan mereka sendiri dan orang lain tanpa memperdulikan apakah pernyataan, jawaban, alasan, dll itu masuk akal atau tidak. Kedua hal tersebut sebenarnya merupakan bentuk dari ketidakseimbangan antara aspek kognitif dan afektif seseorang. Lebih lanjutnya, hal tersebut mempunyai dampak negatif masing-masing apabila mengambil suatu keputusan hanya menggunakan logika atau perasaan saja.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) logika diartikan sebagai jalan pikiran yang masuk akal. Lebih lanjut, William Alston mendefinisikan logika sebagai studi tentang penyimpulan, secara lebih cermat, usaha untuk menetapkan ukuran-ukuran guna memisahkan penyimpulan yang sah dan tidak sah. Contoh nyata dalam kehidupan, yaitu seorang pemimpin yang mengambil keputusan berdasarkan logika tanpa melibatkan emosi atau perasaan diri sendiri dan orang lain akan memperbesar kemungkinan semua anggota merasa bekerja secara paksa atau ada ketidaksesuaian perasaan setiap individu.


Sedangkan definisi perasaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perasaan adalah pertimbangan batin (hati) atas sesuatu; pendapat. Lebih jelasnya, menurut Chaplin (1972) perasaan (state) yang dialami oleh setiap individu sebagai bentuk proses akibat dari persepsi tindakan yang mempengaruhinya. Dalam arti ini keadaan tersebut dilakukan atas dorongan internal dan eksternal dalam kehidupan yang dijalankan. Contohnya, jika seorang pemimpin mengambil keputusan dengan perasaan tanpa mempertimbangkan analisis yang logis dan mendalam terhadap keefektifan keputusan tersebut, maka kemungkinan besar akan berujung pada munculnya hambatan besar dalam proses eksekusinya.


Kita harus menyadari bahwa logika dan perasaan merupakan hal yang harus berjalan secara beriringan. Namun, prinsip prioritas masih harus diterapkan sesuai dengan konteks situasi yang kita hadapi walaupun logika dan perasaan harus berjalan secara bersamaan. Ada beberapa situasi yang mana kita dihadapkan pada situasi yang lebih menekankan pada sisi cara berpikir logis kita daripada menggunakan perasaan terlebih dahulu. Contohnya, kegagalan seseorang di masa lampau tidak bisa dirubah kembali, tetapi hanya dapat dijadikan sebagai pelajaran saja dan lebih mempertimbangkan apa yang kita lakukan sekarang karena mencerminkan seperti bagaimana kita di masa depan. Sedangkan, situasi yang lebih menekankan perasaan, contohnya ketika kita berperan sebagai orang tua, tugas kita mendukung dan melejitkan potensi atau bakat apapun yang diminati oleh anak, kita tidak bisa memaksa anak begitu saja untuk menyukai sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Esensinya, prioritas penggunaan antara logika dan perasaan merupakan hal yang sangat bergantung pada konteks situasi yang kita hadapi.

Kesimpulannya, mengambil suatu keputusan tidak hanya menggunakan logika atau perasaan saja karena akan berdampak negatif pada hasil keputusan yang kita ambil. Dengan demikian, logika dan perasaan harus berjalan secara bersamaan, tetapi dalam arti memprioritaskan juga penggunaan antara logika dan perasaan sesuai dengan konteks yang dihadapi. Hal tersebut merupakan salah satu cara agar tercapainya hasil keputusan yang lebih baik.

No comments:

Post a Comment

Pages