Siapa sih yang nggak pernah dengar istilah introvert dan ekstrovert? Dua kata ini sering sekali digunakan untuk menggambarkan kepribadian seseorang. Namun, apakah maknanya sesederhana “yang satu pendiam, yang satu supel”? Di artikel ini, kita akan membahasnya lebih dalam berdasarkan konsep MBTI dan pemikiran Carl Gustav Jung.
Versi Video Pembelajaran
MBTI, Self-Discovery, dan Perdebatan yang Ada
MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) dikembangkan oleh Katherine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers. Teori ini sebenarnya berakar dari pemikiran Carl Gustav Jung, seorang psikiater asal Swiss, khususnya dari bukunya, Psychological Types.
Memang, MBTI sering menuai pro dan kontra. Ada yang menganggapnya sebagai pseudo-science atau ilmu semu. Namun, selama digunakan secara bijak dan memberikan dampak positif untuk pengembangan diri, MBTI tetap bisa menjadi alat refleksi yang bermanfaat.
Yang perlu kita pahami, yaitu jiwa manusia itu kompleks. Tidak bisa disederhanakan secara hitam-putih. Tipologi seperti MBTI bukan untuk mengkotak-kotakan manusia, melainkan membantu kita melihat kecenderungan pola yang muncul dalam diri seseorang.
Asal-Usul Konsep Ekstrovert dan Introvert
Istilah extroversion dan introversion pertama kali diperkenalkan oleh Carl Jung setelah ia mengamati pola umum dari pasien-pasiennya.
Menurut Jung:
- Ekstrovert adalah individu yang berfokus pada dunia luar (objek).
- Introvert adalah individu yang berfokus pada dunia dalam (subjek), terutama diri mereka sendiri.
- Definisi ini jauh lebih dalam daripada sekadar “terbuka” dan “tertutup”.
Memahami Ekstrovert Lebih Dalam
Ekstrovert cenderung mengarahkan energinya ke luar. Mereka merasa hidup ketika berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. Tidak heran jika mereka terlihat:
- Energik
- Suka bergabung dalam event
- Mudah bergaul
- Terlihat ekspresif
Namun, Jung juga menjelaskan bahwa pada tipe ini, kehidupan batin sering kali kurang disadari. Ia menulis bahwa kehidupan psikis ekstrovert seakan-akan berlangsung di luar diri mereka. Mereka hidup melalui atau bersama orang lain, dan refleksi diri yang terlalu dalam bisa terasa tidak nyaman bagi mereka. Artinya, bukan berarti ekstrovert tidak punya kedalaman batin, tetapi fokus utamanya memang lebih banyak ke dunia eksternal.
Memahami Introvert Lebih Dalam
Berbeda dengan ekstrovert, introvert mengarahkan energinya ke dalam diri. Mereka cenderung reflektif, introspektif, dan sangat memperhatikan kehidupan batin.
Ciri-ciri umum introvert antara lain:
- Lebih suka kesendirian
- Cepat lelah di keramaian (“baterai sosial” cepat habis)
- Mandiri
- Tidak mudah terpengaruh mayoritas
- Terlihat misterius karena kehidupan batinnya privat
Jung menjelaskan bahwa introvert sering merasa kewalahan ketika berada di tengah keramaian besar. Bukan karena takut, tetapi karena dunia luar terasa terlalu menuntut dan overpowering bagi mereka. Menariknya, justru karena fokus pada dunia batin inilah banyak introvert memiliki empati yang dalam dan prinsip yang kuat.
Ekstrovert dan Introvert Itu Soal Energi, Bukan Label
Hal penting yang sering disalahpahami, yakni tidak ada orang yang 100% ekstrovert atau 100% introvert. Ini soal kecenderungan dan persentase. Setiap orang memiliki kedua sisi tersebut. Dalam MBTI sendiri, terdapat delapan fungsi kognitif, dan masing-masing bisa bersifat introverted atau extraverted. Energi kita juga bisa berubah tergantung situasi.
Misalnya:
Bayangkan dua orang pergi ke museum tanpa tahu isinya. Si ekstrovert membayangkan akan ada banyak informasi menarik. Si introvert tidak terlalu antusias. Namun ternyata museum tersebut bertema dinosaurus, topik yang sangat disukai si introvert. Tiba-tiba, introvert menjadi sangat aktif dan bersemangat. Sebaliknya, ekstrovert merasa kecewa karena ekspektasinya tidak terpenuhi dan justru ingin cepat keluar.
Apa yang terjadi?
Energi mereka “bergeser”. Ekstrovert bisa tampak introvert, dan introvert bisa tampak ekstrovert. Ini menunjukkan bahwa dinamika kepribadian jauh lebih fleksibel daripada sekadar label.
Mengapa Tipologi Itu Penting?
Tipologi seperti yang dijelaskan Jung bukan untuk membatasi, tetapi untuk menyederhanakan kompleksitas manusia. Jung sendiri mengatakan bahwa tipologi adalah alat penting untuk membantu peneliti (dan kita sebagai individu) mengurangi kompleksitas psikis manusia menjadi sesuatu yang lebih terstruktur dan bisa dipahami.
Dengan memahami kecenderungan diri:
- Kita lebih tahu bagaimana mengelola energi.
- Kita lebih mudah memahami orang lain.
- Kita belajar menghargai perbedaan cara pandang.
- Tidak ada tipe yang lebih benar. Yang ada hanyalah cara kerja energi yang berbeda.
Memahami ekstrovert dan introvert bukan tentang menentukan siapa yang lebih baik. Ini tentang memahami bagaimana energi kita mengalir, ke luar atau ke dalam, dan bagaimana kita merespons dunia. Di pembahasan selanjutnya, kita bisa menggali lebih dalam tentang teori tipologi ini. Karena pada akhirnya, pemahaman konsep ini adalah perjalanan untuk memahami diri kita sendiri. Dan semakin kita mengenal diri, semakin bijak kita menjalani hidup.

No comments:
Post a Comment