Lulus Seleksi Substansi LPDP dan Berbagai Cerita di Baliknya


Setelah dinyatakan lulus seleksi bakat skolastik dan mengalami kegalauan yang luar biasa seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya, Galau Seleksi Bakat Skolastik LPDP, Akhirnya Lulus!, 😂 Deg-degan masih belum berakhir juga. Tidak terasa, saya sudah berada di tahap seleksi akhir LPDP, yakni seleksi substansi atau wawancara yang mana ini menjadi tahap inti apakah kita lulus atau tidaknya menjadi seorang awardee beasiswa LPDP di gelombang ini. Tentunya, perjalanan masih panjang jika saya lulus karena masih ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk daftar masuk universitas yang dituju dan mempersiapkan diri untuk tes bahasa inggris karena saya memilih LPDP tujuan luar negeri. Intinya, di artikel ini, saya ingin membagikan pengalaman saya sendiri bagaimana dapat melewati tahap seleksi substansi ini mulai dari apa yang saya lakukan dan pelajaran besar apa saja yang saya dapatkan dulu.


Riset Kampus Tujuan

Memahami kampus tujuan sudah bukan hal yang perlu dibahas sebenarnya. Namun, di sini saya harus memahaminya karena waktu yang semakin dekat dengan jadwal seleksi substansi. Saya mulai mencari persyaratan bahasa apa saja yang diterima untuk masuk universitas sana, peringkat universitas, peringkat jurusan, kurikulum pendidikan di negara sana, dan lain-lain. Pemahaman kita terhadap kampus tujuan akan menjadi salah satu data kuat bahwa kita memang salah satu kandidat yang serius dan sudah matang mencari kampus tujuan. Hal ini akan berbeda dengan pelamar LPDP yang sudah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA), mereka akan lebih dianggap sudah memahami kampus tujuannya karena adanya bukti penerimaan mereka di kampus tersebut. Namun, para pelamar LPDP yang sudah mendapatkan LoA pun harus tetap memahami dan mempelajari kampus tujuannya karena bukan tidak mungkin mereka akan menanyakannya kembali terkait kampus tujuannya. Pastinya, beberapa dari kita ada yang kewalahan ketika kita memahami kampus tersebut karena dikhawatirkan ada yang lupa saat nanti interviu. Salah satu cara efektif yang saya lakukan adalah menghafal dengan mempelajarinya dengan metode active recall. Ada banyak sekali aplikasi android atau pc yang bisa dipakai untuk menerapkan metode belajar ini seperti Notion, Ankidroid, Quizlet, dan sebagainya. Saya sendiri menggunakan Notion. Dengan metode ini, kita menghafal sekaligus memahami bagian mana yang memang kita belum pahami dengan baik. Kalian dapat mengecek seperti apa cara kerja active recall di YouTube dan Google.


Memahami Curriculum Vitae (CV) dengan Baik

Awalnya saya kebingungan apa yang harus saya persiapkan, tetapi akhirnya saya bertanya kepada kakak tingkat saya yang mana beliau sudah menjadi awardee LPDP 2021, saya bertanya kepada beliau apa yang harus saya persiapkan untuk menghadapi seleksi substansi ini. Kemudian, beliau memberikan saran kepada saya untuk memahami kembali CV yang sempat saya tulis di tahap seleksi administrasi karena nanti apa yang saya tulis akan ditanyakan kembali jika ada yang belum jelas. Seperti yang kita ketahui juga, memahami CV dengan baik itu bisa menjadi mudah dan bisa juga menjadi hal yang sulit. Intinya, pemahaman hidup kita sendiri dari dulu, sekarang, dan rencana-rencana ke depannya perlu kita jelaskan kembali kepada diri kita sendiri. Semakin terbiasa kita merefleksikan sesuatu yang terjadi di masa lalu dan mengambil pelajarannya, semakin mudah pula nantinya kita memilah dan memilih informasi mana yang perlu disampaikan dan yang tidak. Selain itu, menyadari apa yang kita lakukan sekarang dan bagaimana yang kita lakukan ini sudah relevan dengan target-target ke depannya. Lebih lanjut, berbicara tentang masa depan, hal inilah yang penting kita pikirkan, yakni apa visi kita dalam hal karir dan bagaimana visi kita tersebut dapat mengubah dunia menjadi lebih baik, khususnya untuk negara kita, Indonesia. Tenang saja, jika beberapa dari kita ada yang belum mempunyai rencana-rencana jelas ke depannya dan belum terbiasa merefleksikannya, inilah saatnya kita mencoba mengenal lebih dekat diri kita dan bagaimana kita membentuk pola untuk mencapai target kita di masa yang akan datang.


Lebih lanjut, saya dulu pernah ditanya "Jadi apa keinginan Anda itu ya? cukup banyak sekali". Saya mencoba untuk menjelaskan secara terstruktur kepada mereka bahwa sebelum menjadi seorang konsultan pendidikan saya akan mencoba karir menjadi kepala sekolah, pengawas sekolah, atau pun dosen karena pengalaman tersebut akan memperkaya pengetahuan saya secara praktisnya sebagai konsultan pendidikan nanti di Indonesia. Kemudian, mereka bertanya kembali, terus "apa itu content creator? Anda ingin menjadi content creator juga?". Lalu, saya menjawab bahwa menjadi content creator itu bisa lebih fleksibel mengerjakannya dan saya memanfaatkan teknologi ini untuk menyebarkan ilmu yang saya dapat lebih luas lagi, tidak hanya dalam satu lingkungan saja di mana saya berada. Jadi, pada dasarnya, saya membentuk sebuah framing bahwa saya adalah orang yang mengabdikan diri pada bidang pendidikan. Lebih jelasnya, jurusan yang saya ambil nanti adalah Learning, Education, dan Technology. Penjelasan tadi tentunya sangat berkaitan dengan mengapa saya ingin mengambil program studi ini. Semakin mudah kita memahami diri kita sendiri, semakin mudah menjelaskannya ke orang lain pula, apalagi ketika berada dalam interviu seperti ini.


Belajar Berargumen

Di sini, kita tidak perlu berbohong dan mengatakan "ya" yang sebenarnya "tidak" dan "tidak" yang sebenarnya "ya". Kita boleh mengatakan "ya" atau "tidak" dengan argumen yang memang sudah relevan dengan yang kita alami dan tidak mengada-ada. Saya dulu pernah ditanya "ketika kamu di sana pernah ada masalah yang dihadapi tidak?", saya menjawab "ada pak, paling hal kecil saja, masalah toilet dan makanan halal atau tidaknya, tetapi saya sudah terbiasa jadinya pas di sana". Kemudian mereka bertanya kembali "Baik, hanya masalah kecil ya? Wah, sepertinya enak-enak saja ya, tidak ada masalah besar ya? Coba apa masalah terbesar dalam hidupmu?". Jawaban dari mereka seolah-olah bahwa saya tidak pernah menemukan masalah besar dalam hidup saya. Lalu, saya menjawab dengan tenang bahwa kata 'masalah' yang saya temukan selama saya berada di luar negeri tersebut memang hal kecil buat saya dan dapat diatasi dengan mudah. Namun, jika bersangkutan dengan masalah hidup, ada satu masalah besar yang saya hadapi, yakni kehilangan salah satu orang tua saya, Ayah. Walaupun demikian, saya tetap dapat mengambil hikmah dari semuanya dan saya masih ingat perkataan terakhir beliau kepada saya "Yadi, melihat Yadi sukses juga, Bapak mah sudah bahagia". Perkataan tersebut menjadi penyemangat saya untuk terus berjuang dalam hidup. Jadi intinya, ketika nanti kita berada dalam interviu, stay true to yourself dan tetap terlihat profesional serta percaya diri di depan mereka. Pertanggungjawabkanlah dari apa yang sudah kita tulis di CV kita kepada mereka nanti dan bersiap dengan pertanyaan-pertanyaan dari mereka. Mulai dari sekarang kita harus mulai peka terhadap kata-kata dan maksud dari suatu ujaran agar kita dapat meluruskan dan mengklarifikasi ujaran yang kita sampaikan kepada para pewawancara. 


Itulah apa yang saya lakukan sebelum dan ketika sedang dalam proses interviu. Tentunya banyak sekali poin-poin reflektif yang perlu saya sampaikan kepada kalian juga. Berikut adalah beberapa pelajaran yang saya dapatkan setelah berhasil lulus melewati seleksi substansi ini.


1. Harus Siap dengan Pertanyaan Spesifik

Pelajaran yang pertama saya dapatkan adalah pentingnya persiapan. Seperti yang kita ketahui bahwa pewawancara pastinya harus memastikan bahwa para kandidat ini memang layak untuk diberikan beasiswa, salah satunya adalah dengan cara menanyakan hal spesifik yang mungkin si peserta tersebut tidak begitu memperhatikannya. Kejadian ini saya alami sendiri karena pada waktu itu saya ditanyakan apa kurikulum yang diterapkan di universitas yang saya tuju. Untungnya, saya sudah mengetahui hal tersebut karena sudah menghafalkannya jauh-jauh hari. Di sini, saya sadar bahwa seandainya jika saya menjawab kurang tahu akan hal tersebut, ini mungkin akan sedikit mengurangi poin bagi mereka. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, untuk memahami universitas-universitas yang kita tuju, kita dapat menggunakan metode active recall dalam proses mempelajarinya. Jadi, yang dapat saya simpulkan di poin pertama ini adalah pentingnya persiapan matang untuk riset kampus tujuan, cara mendapatkan LoA, dan memahami kembali CV kita dengan baik. Satu hal lagi, yaitu mock interview. Hal ini terlihat sepele, tetapi practice makes perfect. Jika kalian mempunyai teman-teman kakak tingkat, tidak ada salahnya jika meminta kesediaan mereka untuk latihan interviu dengan kalian. Selain itu, kalian bisa mencoba untuk gabung Discord LPDP 2022 dengan cara klik di sini. Kalian di sana akan berjumpa dengan banyak peserta LPDP dan awardee-nya juga. Lebih lanjut, kalian dapat menonton mock interview peserta lain atau jika beruntung, kalian juga bisa ikut untuk melakukan mock interview di sana. Terakhir, kalian juga dapat menonton simulasi interviu LPDP di YouTube. Ada beberapa video simulasi interviu yang bagus di sana untuk kalian tonton. 


2. Jangan Gentar

Selanjutnya, yaitu jangan gentar. Ya, biasanya yang terjadi jika kita gentar dan gugup di depan para pewawancara hanya akan memperburuk keadaan. Di sini ada dua hal yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan rasa gugup. Pertama, dari aspek asupan makanan dan minuman. Seminggu sebelum interviu, kita harus mengurangi konsumsi kafein yang berlebih, terutama jika beberapa jam lagi menuju jadwal interviu kita. Berbeda dengan postingan sebelumnya, saya menyarankan konsumsi kafein sebelum tes bakat skolastik untuk meningkatkan fokus kita, jika kita tidak mempunyai riwayat penyakit tukak lambung. Di tahap ini, Whitley (1985) mengatakan bahwa kita harus menguranginya, terutama untuk beberapa dari kita yang mudah merasa gugup dan cemas, tetapi masih dapat dikonsumsi jika kita merasa seorang individu yang tidak terlalu gampang untuk merasa gugup dan cemas. Namun, menurut pendapat saya pribadi, menjauhinya pada hari interviu akan lebih baik daripada merisikokan performa kita buruk saat diwawancara. Selanjutnya, yang kedua, yaitu kesehatan mental kita. Cara efektif yang sering saya terapkan sebelum saya diwawancara adalah berpikir bahwa mereka adalah manusia sama seperti kita pada dasarnya. Mereka makan nasi, berada di bumi yang sama, dan akan meninggal juga. Ini artinya kita sederajat dengan mereka. Hanya saja masalah pengetahuan tentunya beda, tetapi kalau masalah pengetahuan kita juga dapat mempelajarinya seiring berjalannya waktu. Jadi, apa yang harus ditakutkan? Hanya Allah saja yang paling berhak ditakuti. Intinya, jangan terintimidasi hanya karena gelar mereka atau power yang mereka miliki, tetapi justru di sini peluang untuk memperlihatkan seberapa percaya diri dan profesionalkah kita ketika berhadapan dengan orang-orang yang mempunya power lebih tinggi dari kita.


3. Sesuaikan Intonasi Bicara

Poin selanjutnya, sadar atau tidak sadar adalah cara kita berbicara. Mittapalli et al. (2021) mengemukakan bahwa berbicara merupakan sebuah seni. Salah satu hal yang kita perhatikan dari cara kita berbicara adalah intonasi. Nama lain dari intonasi, yaitu lagu kalimat. Ketika kita ingin menekankan suatu poin tentunya tingkat volume yang digunakan akan sedikit berbeda. Begitu juga dengan kita ketika diwawancarai oleh mereka. Lagu kalimat dari apa yang kita ujarkan apakah sudah sesuai dan dapat meyakinkan mereka. Misalnya, dulu saya pernah mengatakan "... Di sini saya tidak bisa diam saja mereka hanya menghabiskan waktu bermain layang-layang sementara kualitas pendidikan berkurang karena Covid-19 ...". Dari kalimat ujaran tersebut, coba kalian ucapkan dengan lagu kalimat yang berbeda. Dari hasil percobaan tersebut, kita akan sadar bahwa intonasi berbicara berpengaruh terhadap bagaimana lawan bicara akan bereaksi terhadap kita. Jadi, hilangkanlah rasa gentar dan berbicaralah dengan penuh keyakinan, tetapi tetap harus terkendali emosi kita dan tetap rendah hati jangan terlalu banyak berbicara kebaikan-kebaikan yang kita lakukan karena mereka juga sudah membaca CV kita. Mereka hanya bertanya kepada kita tentang hal-hal yang masih kurang jelas atau menginginkan informasi lebih dari kita. Jadi, tugas kita adalah menjelaskannya menggunakan bahasa yang persuasif atau meyakinkan. Terakhir, ketika saya dilontarkan sebuah pertanyaan oleh pewawancara, saya menjawab "iya, pak betul" dengan mengangguk dan tersenyum untuk menunjukkan bahwa kita yakin dengan jawaban yang kita pilih. Itu hal yang terlihat remeh, tetapi menurut saya, ini akan berpengaruh sekali karena cara kita berbicara akan berbeda antara yang gugup dan percaya diri.


4. Bisa karena Terbiasa

Terakhir, ini akan menjadi keuntungan sendiri jika kita sedang bekerja atau berorganisasi ketika berkuliah. Saya mengatakan demikian karena pasti kalian pernah berada dalam situasi di mana kalian dituntut berkomunikasi kepada orang yang lebih tinggi jabatannya dibandingkan kita seperti dosen atau atasan kerja kita. Ketika kita bertemu mereka untuk pertama kalinya pasti kita akan merasa sedikit gugup dan khawatir. Semakin terbiasa kita berkomunikasi dengan orang baru lebih banyak dan lebih tinggi power-nya dari kita, semakin terbiasa pula ketika kalian nanti bertemu para pewawancara untuk pertama kalinya. Begitu juga dengan apa yang saya rasakan. Alhamdulilah, sampai sekarang, saya dipercaya untuk menjadi asisten dosen untuk ketiga kalinya. Ketika saya bertemu dengan mereka pertama kali saya merasa gugup dan khawatir. Namun, akhirnya, saya terbiasa dengan mereka dan ternyata mereka semuanya baik-baik dan orang-orang positif semuanya. Bahkan, saya pernah bertemu atasan saya dari Belgia, beliau bahkan memiliki jabatan yang sangat tinggi, pastinya ketika pertama kali bertemu dengan beliau saya sangat gugup dan khawatir, tetapi sesudah 3,5 tahun lebih mengenal beliau. Saya sudah terbiasa dan beliau merupakan orang yang positif dan menginspirasi saya. Jadi, dengan terbiasanya saya bertemu orang-orang yang mempunyai power lebih tinggi, saya tidak merasa terkejut dan gugup ketika masuk sesi wawancara LPDP. Bagaimana jika situasinya kita tidak pernah berorganisasi dan belum bekerja? Saran yang bisa saya berikan adalah dengan sering mendengarkan mock interview orang lain di link Discord yang sudah saya berikan di poin sebelumnya. Bahkan kalian coba berusaha mengikuti mock interview di sana karena biasanya mock interview dilakukan dengan para awardee LPDP yang ada di grup tersebut. Biasanya setelah mock interview akan ada umpan balik dari para awardee-nya. Cara terakhir, yaitu mencari teman kakak tingkat kalian yang lulus LPDP dan meminta kesediaan waktunya untuk melakukan mock interview.


Pengumuman Lulus Seleksi Substansi


Itulah pengalaman bagaimana saya dapat melewati tahap seleksi substansi LPDP 2022 ini. Tentunya, masih banyak faktor yang harus diperhatikan, tetapi inilah beberapa pengalaman yang benar-benar saya sadari dan soroti sendiri. Untuk tips wawancara LPDP yang lainnya mungkin kalian dapat memperbanyak informasi dari situs lainnya termasuk YouTube. Alhamdulilah sampai tahap akhir seleksi substansi ini saya dipercaya dan diberikan amanah oleh negara saya, Indonesia, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sukses selalu buat kalian Sobat Caravel yang membaca. 😊


Referensi


Mittapalli, L. S., Dhoopati, S. V., Reddy, G. V., & Babu, A. M. (2021) Comprehensive Study on Various Developing Speaking Skills in English Language Learning.


Whitley, A. O. (1985). The interaction between caffeine and anxiety level during stress.

4 comments:

Pages