Galau Seleksi Bakat Skolastik LPDP, Akhirnya Lulus!


Di artikel sebelumnya, Aku dan Segenap Ikhtiarku: Perjuangan Melewati Seleksi Administrasi LPDP, saya sempat menceritakan bagaimana saya dapat melewati tahap seleksi administrasi LPDP sesuai dengan ekspektasi. Lulus seleksi administrasi memang salah satu momen yang tidak akan terlupakan dan merupakan momen yang membuat saya semakin terbuka harapan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi pada waktu itu. Namun, tidak berhenti di sana, masih ada 2 tantangan yang harus saya lewati setelah lulus seleksi administrasi, yakni seleksi bakat skolastik dan seleksi substansi. Hal ini tentunya membuat saya semakin khawatir, apalagi di tahap ini saya mengerjakan soal-soal yang mana di dalamnya ada beberapa mata pelajaran yang berkaitan dengan rumitnya matematika. Sebenarnya, saya dapat mengerjakan matematika, tetapi saya dapat mengatakan bahwa saya kurang begitu menonjol dalam bidang ini. Hal inilah yang membuat saya merasa tidak nyaman dan terus overthinking.


Sebagai informasi, dari kebijakan LPDP tahun ini, peserta yang sudah memiliki Letter of Acceptance (LoA) atau surat pernyataan bahwa kita diterima oleh universitas yang kita tuju, dapat langsung melewati tahap ini. Kebijakan ini diterapkan karena tes ini bertujuan untuk mengukur potensi atau kemampuan belajar seseorang, yakni potensi kemungkinan keberhasilan seseorang jika ia memiliki kesempatan untuk belajar, terutama pada tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, mengetahui bagaimana kepribadian kita berdasarkan dari tes yang diberikan nanti. Jadi, dengan memiliki LoA maka LPDP sudah menganggap bahwa peserta tersebut sudah memenuhi standar ini. Secara implisitnya, pihak LPDP sudah mempercayakannya pada universitas yang sudah menerimanya. Namun, jika kita belum mendapatkan LoA artinya kita harus melewati tahap ini terlebih dahulu dan kita dapat memilih 3 opsi universitas yang ingin kita tuju dan lamar nanti. Intinya, beasiswa dan daftar masuk universitas itu terpisah. Jadi, ketika kita nanti lulus seleksi beasiswa LPDP, bukan berarti kita diterima oleh universitas langsung. Apakah ada keuntungannya? Ya, dengan mendapatkan beasiswa terlebih dahulu berarti kita sudah mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah dan itu dapat kita tuliskan di application letter karena dapat memberikan poin tambah dari pelamar yang lainnya. 


Saya merupakan salah satu peserta LPDP yang mana pada waktu itu, belum mendapatkan LoA juga karena bulan Januari saya fokus dengan persiapan sidang skripsi. Sementara itu, universitas semuanya yang ada di Finlandia membuka pendaftaran masuk kampus ada yang dari Desember atau Januari. Jadi, saya memutuskan untuk mengikuti LPDP dengan status belum menerima LoA dan pada akhirnya, saya harus berusaha melewati tahap ini dengan segala tantangannya. Di bawah ini, saya akan menjelaskan apa saja yang saya persiapkan untuk menghadapi Seleksi Bakat Skolastik ini.


Manajemen Waktu

Hal ini memang sudah tidak asing lagi dan mungkin beberapa dari kalian juga sudah sering mendengarnya. Namun, tantangannya adalah dalam penerapannya karena biasanya kita memiliki seribu rencana tersusun dan pada faktanya, kita hanya melakukan beberapa saja atau bahkan tidak ada progres sama sekali. Pada waktu itu, saya melaksanakan tes bakat skolastik ini secara daring sehingga saya harus mempersiapkan webcam yang baik dan mengatur semuanya secara teknis dari awal sekali. Selain itu, membaca referensi-referensi soal TBS dan SJT di YouTube setidaknya dapat memberikan saya gambaran umum bagaimana tes ini nantinya. Hal penting lainnya berkenaan dengan pengelolaan waktu, yaitu ketika saya mengerjakan tes, saya mengerjakan soal-soal yang dapat dijawab dengan mudah terlebih dahulu. Alasan saya mengerjakan soal yang mudah terlebih dahulu supaya nanti saya mempunyai banyak waktu untuk mengerjakan soal-soal yang sulit menurut saya. Terakhir, jangan lupa membaca instruksi soal terlebih dahulu dengan teliti. Pada waktu itu, saya mengisi jawaban dari soal tersebut walaupun tidak mengetahui jawabannya karena berdasarkan instruksi bahwa jika saya mengisi tidak akan dikurangi 1 poin, tetapi tetap mendapatkan 0 poin. Jadi, lebih baik mengisinya daripada melewatkannya.


Persiapan Teknis

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi bahwa saya mempersiapkan webcam untuk tes ini karena akan dilakukan secara daring. Selain itu, ada beberapa persiapan teknis lainnya dan nanti biasanya para peserta akan diberikan e-book berisikan petunjuk bagaimana cara melakukan tes ini secara daring. Ketika aplikasi tersebut sudah dapat diunduh, saya langsung uji coba di laptop saya karena dikhawatirkan perangkat yang saya gunakan tidak mendukung. Di sinilah kita harus berhati-hati dan benar-benar matang dalam persiapan teknis ini. Jangan sampai impian kita pada akhirnya terkubur hanya karena kendala-kendala kecil seperti ini. Beberapa contoh yang benar-benar saya perhatikan pada waktu itu adalah kuota dan penggunaan WiFi. Jadi, saya menggunakan WiFi rumah, tetapi tetap menyediakan kuota karena dikhawatirkan terjadi pemadaman listrik. Selain itu, saya juga menjaga baterai laptop atau perangkat android agar tetap terisi penuh. Tentunya bukan hal yang lucu lagi kalau kita sedang mengerjakan tes ini kemudian terjadi pemadaman listrik dan baterai android kita juga yang sudah beberapa persen lagi. Terakhir, mungkin beberapa dari kalian ada yang laptopnya mengalami lag atau lambat dalam memuat program-program. Saya sendiri tidak menganjurkan kalian untuk mngerjakan di laptop tersebut, lebih baik kita meminjam dari desa, lab sekolah, kampus, teman, dan sebagainya untuk sementara waktu. Untuk persiapan teknis lainnya, tentunya kalian akan mengalaminya sendiri dan amati saja apa yang harus dipersiapkan dan faktor-faktor apa yang saja yang dapat menghambat kalian ketika mengerjakan tes nanti.


Persiapan Tes Bakat Skolastik (TBS) dan Situational Judgement Test (SJT)

Selanjutnya, ketika tes, tes tersebut terbagi ke dalam 2 jenis, yaitu TBS dan SJT. Sebenarnya, masih ada beberapa dari kita yang beranggapan bahwa nilai TBS itu merupakan satu-satunya yang dinilai oleh pihak LPDP. Perlu kita ketahui juga bahwa SJT pun termasuk tes penting juga. Pertama, untuk TBS biasanya soal terbagi ke dalam 3 kategori, yakni penalaran verbal, penalaran kuantitatif, dan pemecahan masalah. Setiap kategori ari tes tersebut saya menerapkan teknik yang sudah saya jelaskan sebelumnya, yaitu mengutamakan yang mudah terlebih dahulu. Ketika saya memiliki waktu sekitar 5 menitan lagi, sementara soal-soal masih ada beberapa yang belum diisi, ini adalah waktunya saya untuk mengisi terlebih dahulu soal-soal yang belum terjawab, walaupun saya tidak begitu tahu apa isinya. Ketika semuanya sudah selesai diisi, saya meninjau ulang semua jawaban dan mencoba lagi beberapa soal yang bermodalkan tebak-tebakkan tadi, alasannya, siapa tahu saya dapat menemukan jawabannya sambil memanfaatkan waktu yang ada. Selain itu, ada SJT yang mana lebih mudah dan menjawab sesuai dengan kepribadian saya sendiri. Tes kepribadian ini menurut saya menjadi salah satu penilaian pihak LPDP juga karena tidak mungkin dengan hanya menilai dari aspek intelejensi mereka saja, sementara kepribadian juga menjadi pendukung dan pengukur potensi keberhasilan peserta ketika nanti melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Terakhir, setiap kategori dari tes akan diberikan waktu masing-masing secara terpisah. Jadi, saya mengatur sebaik mungkin waktu tersebut ketika mengerjakannya.


Itulah beberapa persiapan yang saya lakukan ketika pengumuman seleksi administrasi sudah diumumkan. Seperti biasanya, di bawah ini saya menulis beberapa poin refleksi yang mungkin dapat menjadi pelajaran besar buat sobat Caravel juga.


1. Kerjakan Semampunya

Hikmah yang pertama adalah kerjakan semampunya. Maksudnya, ini bukan berarti kita mengabaikan usaha, tetapi berjuang sekuat mungkin yang kita bisa. Pada akhirnya, ini semua adalah kententuaNya. Saya pernah melakukan kegagalan SBMPTN di tahun 2016 dan kemudian lulus SBMPTN 2017. Di sini, saya membuktikan bahwa kita hanya perlu berusaha mempersiapkan segalanya dan lakukan perbaikan ke depannya sebagai evaluasi. Dulu, di SBMPTN 2016, saya melakukan kesalahan besar, yakni mengabaikan instruksi soal yang mana menginformasikan para peserta tes akan dikurangi -1 jika mengisi dengan jawaban yang salah dan poin 0 dengan soal yang tidak diisi. Kemudian, saya memperbaiki kesalahan tersebut dengan membaca instruksi terlebih dahulu di SBMPTN 2017 dan ternyata saya lulus karena saya tidak memaksakan harus mengisi jawaban yang tidak yakin seperti di SBMPTN 2016. Jadi, selama kita menerapkan strategi yang berbeda, kita tidak dikatakan sebagai orang yang gagal, tetapi kita dinamakan sebagai 'pembelajar'. Kaitannya dengan tes bakat skolastik ini, yaitu kita jangan terintimidasi dengan soal dulu, tetapi baca saja instruksinya. Saya sempat mengalami ketakutan ketika mengisi bagian matematika karena saya tidak terlalu baik dalam mata pelajaran tersebut. Namun, saya tetap mengerjakannya menggunakan teknik yang sudah saya jelaskan di poin sebelumnya dan di setiap awal pemberian soal, saya membaca  instruksi terlebih dahulu dengan teliti. Akhirnya, usaha pun tidak mengkhianati hasil.


2. Fokus pada Kekuatan

Di sini, saya sadar sekali bahwa kekurangan terbesar saya berada pada matematika. Jadi, saya hanya mempelajari hal-hal yang umum saja di bagian penalaran kuantitatif ini. Misalnya, dalam konsep deret angka, setelah saya mengisi semua soal matematika, saya kembali ke soal deret yang belum saya isi dan berusaha mengenali pola-polanya. Selain itu, saya memaksimalkan diri di bagian tes penalaran verbal untuk mengejar target skor. Alasannya, jika saya terlalu fokus memperbaiki kelemahan saya ini, saya tidak akan fokus kepada kekuatan utama saya di tes verbal. Kalau saya urutkan harapan poin saya berdasarkan prioritas didapatkan dari (1) tes penalaran verbal, (2) tes pemecahan masalah, dan (3) tes penalaran kuantitatif. Di sini target saya benar-benar mengumpulkan skor sesuai yang sudah saya targetkan sebelumnya. Jadi, mulai dari sekarang kalian dapat mencari latihan-latihan soalnya di internet banyak sekali atau di YouTube. Namun, kita harus tetap ingat bahwa prioritas dalam latihan itu juga harus disesuaikan dengan kenyamanan kita di bagian tes yang mana yang verbal, kuantitatif, atau pemecahan masalah. Terakhir, masih berkaitan dengan fokus, tetapi tidak terlalu berkaitan dengan subtopik di atas, yakni makanan. Janganlah makan makanan yang berisiko sebelum besoknya tes seperti makan makanan pedas. Selanjutnya, tidak ada salahnya kita mengonsumsi kafein (kalau kalian tidak punya riwayat penyakit maag), ini akan membantu fokus kita selama mengerjakan tes. Jadi, apapun yang membuat kita fokus selama mengerjakan tes sebaiknya lakukan saja untuk memaksimalkan tingkat fokus kalian. Saya dulu, sejam sebelum mengerjakan tes, sempat mengonsumsi suplemen yang mengandung kafein terlebih dahulu. Suplemen ini membantu saya menghilangkan rasa kantuk dan lelah selama tes.


3. Targetkan skor

Pelajaran ketiga yang saya dapatkan, yaitu menargetkan skor. Pada tes ini, skor maksimal yang dapat kita capai adalah 300. Setidaknya, kita menargetkan 120 supaya berada di titik aman. Sebenarnya, kita dapat menargetkan 100 dalam tes, hanya saja dikhawatirkan ekspektasi skor akan berada di bawah skor. Namun, hal yang harus kalian ketahui juga, ini hanya dugaan saya dan berdasarkan pengalaman apa yang saya alami, kemungkinan besar juga, tim penyeleksi LPDP akan mempertimbangkan secara matang dalam SJT juga. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, kemungkinan besar tim penyeleksi LPDP akan menyeimbangkan antara intelejensi dan kepribadian kita juga. Lebih jelasnya, skor kalian nanti akan muncul setelah mengerjakan soal-soal TBS semuanya sebelum masuk ke SJT. Jadi, jika nilai kalian pas 100 atau di bawah seratus, jangan langsung mengklaim bahwa kalian akan gagal melewati tes ini, tetapi kalian harus benar-benar masksimalkan energi kalian ketika mengerjakan SJT. Ini setidaknya akan menjadi harapan kita agar hasil tes kepribadian tersebut menjadi data pendukung sebagai bahan pertimbangan juga untuk para tim penyeleksi LPDP.


Pengumuman Lulus Seleksi Bakat Skolastik


Itu saja yang dapat saya bagikan dari mulai persiapan sebelum tes dan apa yang harus dilakukan selama tes. Sesudahnya, kita berdo'a dan jangan lupa memberikan penghargaan terhadap kerja keras kita. Saya dulu menyempatkan liburan ke Curug Dua Ciparay, Tasikmalaya untuk melihat alam dan meditasi sederhana, yakni menarik nafas secara mendalam, kemudian mengeluarkannya dengan pelan-pelan dengan penuh kesyukuran, kebahagiaan, dan kepuasaan atas kesempatan yang sudah Allah berikan kepada saya. Semoga postingan ini bermanfaat untuk kalian. Good luck and Much Success! Indonesia membutuhkan generasi harapan selanjutnya, yakni KITA. 😊


Artikel selanjutnya >>  Lulus Seleksi Substansi LPDP dan Berbagai Cerita di Baliknya

14 comments:

  1. Halo, kak. Salam kenal. Terima kasih atas artikel mengenai tes bakat skolastik yang kakak buat, cukup membuat saya lebih tenang dan tercerahkan untuk menghadapi hari tes tepatnya besok, 5/9/22 (heheh). Semoga saya juga bisa mengikuti jejak kakak untuk lolos seleksi tes bakat skolastik ini dan seleksi tes substansi kelak, aamiin. Sekali lagi, terima kasih banyak, kak. Sehat dan sukses selalu, yaaa.^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya rabb. Bismillah... Do'a terbaik ya, semoga dilancarkan segalanya besok. Good Luck! ^_^

      Delete
  2. Halo kak, kalo boleh tau skor kakak berapa ya? Karena tadi skor saya 175 😭 dapet info dari teman katanya untuk tujuan LN skor minimal 195 😢

    ReplyDelete
    Replies
    1. No, aku di bawah kak Iim malah. Tapi masih bisa lulus LN juga. Santuy saja, kayaknya tim LPDP bukan hanya menilai dari bagian ini saja deh. Tes SJT juga keknya bener-bener berpengaruh juga deh buat pertimbangan mereka nantinya. Semangaaat kak! Bismillah, you will make it! Amiin ya rabb..

      Delete
    2. Masya Allah kak, terima kasih banyak informasinya. Sangat menenangkan jawabannya karena saya galau juga seperti judul blog kak yadi 🙂😁 Amin Ya Allah, terima kasih banyak kak semangatnya 🤲 semoga bisa mengikuti jejak Kak Yadi lolos beasiswa LPDP ke luar negeri 🤲

      Delete
    3. Sama-sama, kak. Semangat! ^_^ Amiin ya rabb..

      Delete
  3. Postingan yang menenangkan,
    btw ada tips wawancara gak kak? Esaiku ancur banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. akan publish soon, kak. Ditunggu saja hehe... pantau saja ^_^

      Delete
  4. Info dong kak, nilai maksimal untuk tiap komponen (verbal, penalaran kuantitatif, dan penyelesaian masalah) masing-masing berapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak, bantu jawab ya. Jadi kalau diambil skor maksimal sebesar 300 dari 60 soal berarti jadinya jumlah soal untuk tiap komponen * 5
      Verbal 23 soal * 5 = 115
      Kuantitatif 25 soal * 5 = 125
      P. Masalah 12 soal * 5 = 60

      Semoga terbantu, maaf kalau salah hehe

      Delete
    2. berarti soalny 60 saja ya mas? waktu pengerjaan berapa ya?

      Delete
    3. Yups, 60 soal. Waktu keseluruhan 135 menit kalau saya dulu dan dibagi verbal 30 menit, kuantitatif 40 menit, pemecahan masalah 20 menit, dan SJT 45 menit.

      Delete
  5. Sangat membantu menjelaskan kegalauan. Tapi sepertinya test kuantitatif akan berpengaruh pada mereka yang meminati jurusan sains dan teknik. Setujua juga kalau mereka akan melihat test kepribadiannya juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, kak. Tes kuantitatif mungkin akan menjadi pertimbangan lebih untuk yang jurusannya yg lebih ke ilmu eksakta. Hehe

      Delete

Pages