Aku dan Segenap Ikhtiarku: Perjuangan Melewati Seleksi Administrasi LPDP


Memakai toga adalah mimpi besar bagi seseorang yang sedang berada dalam perjuangannya dalam dunia akademik, termasuk saya sendiri. Namun, di balik itu semua, saya juga memikirkan apa yang harus saya lakukan selanjutnya sesudah menyelesaikan S1 ini. Bukanlah hal yang mudah, seberapa jauhpun pergi dalam dunia akademik, tetap saja realitanya kita akan kembali ke dunia pekerjaan sesungguhnya. Sebenarnya, saya sudah bekerja di dua lembaga dan saya sangat menikmati pekerjaan saya ini, yakni sebagai asisten dosen dan guru di sebuah sekolah. Meskipun demikian, saya merasa pekerjaan ini merupakan salah satu jembatan menuju puncak karir yang sangat saya inginkan di masa depan. Oleh sebab itu, saya mulai berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, walaupun saya tidak tahu karena secara finansial tidak memungkinkan. Tidak kehabisan akal, saya mulai berpikir untuk melamar salah satu beasiswa, yaitu Beasiswa Prasejahtera dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).


Berbagai rencana sudah saya siapkan setelah menyelesaikan S1 ini. Pertama, tentunya saya akan mencoba mendaftar LPDP. Kemudian, jika LPDP masih bukan rezeki saya, saya berencana untuk melanjutkan pekerjaan saya di sini seperti biasa. Selain itu, rencana yang tidak kalah ekstremnya, saya berencana untuk ikut ke teman saya, yakni pergi ke Batam. Saya ingin pergi ke sana semata-mata dengan alasan bahwa dunia ini luas dan saya tidak ingin hanya berada di satu tempat yang sama. Yang membuat saya tertarik lagi untuk pergi ke sana, yaitu tempatnya yang berada dekat dengan pantai-pantai. Entahlah, saya selalu membayangkan bahwa saya bisa meluangkan waktu untuk pergi ke pantai sendiri dan mencoba untuk merenung sendiri di sana. Semakin dewasa, semakin menantang pula berbagai masalah yang datang dalam kehidupan. Saya sangat merasakan hal tersebut terutama dalam hal karir dan keuangan. Di postingan sebelumnya Perjuangan di Balik Gelar Sarjanaku, saya menceritakan bagaimana saya benar-benar berjuang untuk meraih gelar S1 ini. Ternyata, kebahagiaan memakai toga tersebut hanya sesaat, justru tantangan-tantangan luar biasa sudah menyambut di luar sana dan saya harus siap juga menyambut mereka.


Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, di artikel ini, saya akan menceritakan bagaimana pengalaman saya saat mengikuti seleksi Beasiswa LPDP tahap pertama, yaitu seleksi administrasi. Di tahap ini, saya menemukan beberapa tantangan yang mana saya seharusnya mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Berdasarkan apa yang saya rasakan di tahap pertama LPDP ini, yaitu cukup menguras tenaga dan harus siap untuk ke sana-sini demi melengkapi persyaratan administrasi LPDP ini. Berikut saya jelaskan beberapa poin penting yang saya lakukan selama berada di seleksi tahap ini.


Saksi Perjuangan Pengambilan Ijazah, tetapi Belum Ada

Mengganti Ijazah dengan Surat Keterangan Lulus (SKL)

Pada waktu itu, saya sudah lulus pada Bulan Januari 2022. Saya mulai persiapan untuk mendaftar LPDP ini, tetapi saya sempat merasa bingung kapan Ijazah saya akan selesai. Namun, saya tetap melanjutkan daftar LPDP tersebut dengan menggunakan SKL terlebih dahulu. Saya mendapatkan SKL tersebut dari Sub Bagian Administrasi Pendidikan (SBAP) yang sudah dibubuhi tanda tangan dan diberikan cap juga oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Yang menjadikan saya khawatir di tahap ini, yaitu Ijazah yang tidak tentu kapan jadinya, sementara di tahap seleksi substansi nanti harus menunjukan Ijazahnya. Di sini, solusi yang saya lakukan, yakni menghubungi Call Center LPDP terkait permasalahan ini. Ternyata, dengan adanya SKL ini sudah lebih dari cukup. Meskipun demikian, saya tetap berusaha melakukan tindak lanjut dengan cara tetap melakukan komunikasi dengan staff administrasi yang bertanggung jawab terhadap ijazah mahasiswa. Pada akhirnya, sebelum seleksi substansi, ijazah saya sudah selesai dan saya sangat merasa lega sekali. Sedikit mengejutkannya, ketika saya berada dalam tahap seleksi substansi, saya tidak ditanyakan tentang ijazah saya. Oleh karena itu, SKL saja sudah cukup, tetapi bukan berarti kita tidak mengusahakan untuk mendapatkan ijazah sesegera mungkin.


Menulis sambil Menikmati Pemandangan Alam

Menulis Personal Esai

Selanjutnya, bagian yang tidak kalah menantangnya, yaitu menulis personal esai sebanyak 1500 - 2000 kata. Terdengar cukup melelahkan, bukan? 😂 Saya juga memang merasakannya pada waktu itu. Namun, tidak lama kemudian, saya mengakalinya, yaitu dengan membuat kerangka tulisan. Ya, teknik ini memang sudah tidak asing lagi, terutama bagi mereka yang sedang berusaha mengembangkan kemampuan menulisnya. Analogi sederhananya, yaitu ketika kita ingin membuat sebuah layangan, tentunya kita harus membuat kerangkanya terlebih dahulu. Sama halnya dengan tulisan, akan jauh lebih baik, jika kita mempersiapkan kerangka tulisan terlebih dahulu supaya kita mengetahui apa yang akan kita tuliskan. Berikut adalah beberapa coretan kerangka tulisan esai saya sebelum menuliskannya menjadi sekitar 1800 kata kurang lebih.


Coretan Kerangka Tulisan Personal Esai Saya

Hal lain yang tak kalah pentingnya dalam menulis esai, yaitu menulis esai di tempat yang membuat benar-benar membuat kita nyaman. Secara pribadi, saya merasa lebih mudah untuk menuangkan segala pemikiran ketika saya menulis sambil menikmati pemandangan alam. Tidak lupa, saya menyalakan musik instrumental yang semakin membuat semangat berkobar ketika menulis. Pada akhirnya, saya dapat menyelesaikan personal esai saya yang berjumlah sekitar 1800 kata dengan setiap paragraf yang terdiri dari 100 - 200 kata. Saya mengikuti aturan jumlah kata dari setiap paragraf tersebut seperti yang dilansir dalam Grammarly Blog.


Selain itu, prinsip kekohesifan dan kekoherenan dari sebuah teks sudah saya terapkan juga ketika membuat personal esai ini. Sederhananya, kekohesifan dapat kita analogikan sebagai batu-bata dan material lainnya dari sebuah bangunan, sementara kekoherenan dapat dianalogikan bagaimana akhirnya sebuah bangunan tersebut terlihat. Kekoherenan dapat dilatih dengan membuat kerangka tulisan yang benar-benar berkaitan dengan pertanyaan dari LPDP, yakni "Komitmen kembali ke Indonesia, rencana pasca studi, dan rencana kontribusi di Indonesia". Kemudian, kekohesifan dapat dibentuk dengan mengikuti aturan penulisan tata kalimat yang benar, diksi atau pemilihan kata, dan keterkaitan antara satu paragraf dengan paragraf lainnya.


Foto Bersama Bapakke, Pernah Menjadi Asistennya selama 3 Tahun

Meminta Surat Rekomendasi

Bagian ini merupakan bagian yang bisa dibilang susah-susah gampang. Meminta surat rekomendasi sebenarnya mudah, saya menghubungi orang yang memang sudah mengenal saya bertahun-tahun. Lalu, saya memutuskan untuk mengajukan permintaan surat rekomendasi kepada dosen saya sendiri dan kepala sekolah tempat saya mengajar. Pertama, saya mengenal dosen saya sejak 2019 dan berpartisipasi dalam proyek-proyek mengajarnya di SMP. Selain itu, saya juga membantu beliau dalam pekerjaan-pekerjaannya, jika beliau sedang memerlukan bantuan saya. Selanjutnya, saya sudah mengenal kepala sekolah SMK sejak SMP. Lebih jelasnya, saya juga merupakan alumni dari sekolahnya. Setelah beberapa tahun, saya kembali ke sekolah beliau lagi untuk mengabdikan diri sebagai pengajar di sana. Intinya, saya memutuskan untuk meminta rekomendasi dari mereka berdua karena saya menganggap dan sudah mempertimbangkan dengan matang bahwa mereka sudah mengenal bagaimana diri saya sebenarnya terutama dalam hal etos kerja saya. Terakhir, hal menantang yang saya temukan ketika meminta surat rekomendasi ini, yaitu masalah pengelolaan waktu yang meliputi pengaturan jadwal untuk bertemu dan mengomunikasikannya kembali jika belum ada balasan. Saya paham betul bahwa mereka juga benar-benar memiliki kesibukannya masing-masing. Jadi, kuncinya di sini, yaitu jangan sungkan untuk mengomunikasikannya kembali, jika belum ada balasan sama sekali.  


Sertifikat Tes Bahasa Inggris - Duolingo Test

Menguji Kemampuan Bahasa Inggris

Tantangan terbesar bagi kebanyakan pelamar beasiswa, termasuk saya sendiri adalah persyaratan skor tes Bahasa Inggris yang harus mencapai standar yang sudah ditetapkan. Pada waktu itu, tenggat waktu penutupan seleksi administrasi LPDP akan segera ditutup dan parahnya, saya belum mengambil tes Bahasa Inggris sama sekali. Di antara lembaga penyedia tes Bahasa Inggris yang tertera di situs LPDP, saya memutuskan untuk memilih tes Duolingo. Tes ini lebih cepat rilis hasilnya karena saya memiliki waktu yang tidak banyak juga. Tantangan dari tes ini, yaitu kita harus benar-benar fokus melihat ke layar saat mengerjakan tesnya. Saya pernah beberapa kali gagal karena saya sempat melirik kanan kiri. 😂 Harga tes ini cukup terjangkau sekitar 750 ribuan dan saya juga dapat membayarnya melalui kartu debit. Terakhir, hal yang harus diperhatikan di sini, yakni apakah tes Duolingo ini sudah tertera dalam persyaratannya atau tidak ada. Sejauh yang saya ketahui, tes ini hanya tersedia di jalur afirmasi untuk LPDP. Sebagai informasi tambahan, tes Duolingo ini juga dapat digunakan untuk melamar beasiswa Fullbright. Jadi, jangan khawatir, tes Duolingo ini, walaupun memang terdengar populernya hanya seperti permainan yang ada di Google Playstore, 😂 hasil tes resmi dari lembaga ini valid dan dapat digunakan untuk melamar beberapa beasiswa.


Di depan Kantor Desa

Mengajukan Permintaan Surat Penerima Bantuan Sosial

Terakhir, drama yang tidak kalah menguras pikiran saya adalah ketika saya diminta oleh lembaga penyedia beasiswa untuk melampirkan surat yang menyatakan bahwa kita penerima bantuan sosial. Bagian ini mungkin sangat bermanfaat untuk dibaca oleh kalian yang mendaftar beasiswa LPDP di jalur prasejahtera seperti saya. Sebenarnya saya tidak perlu meminta surat ini karena persyaratan ini bersifat opsional dan bahkan bisa dibilang ini hanya data pendukung bahwa saya memang penerima bantuan sosial. Yang perlu saya unggah hanyalah screenshot yang menunjukan bahwa ibu saya penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di situs Data Terpadu Kesejateraan Sosial (DTKS). Namun, masalah mulai muncul di sini yang mana ibu saya terdaftar di DTKS, tetapi bukan penerima BPNT, melainkan Bantuan Sosisal Tunai (BST). Singkatnya, pada waktu itu, saya sempat bingung dan panik karena jika ibu saya penerima BST, sedangkan saya sudah memilih BPNT di situs LPDP-nya, ini akan terjadi ketidaksesuaian data. Sebagai tindak lanjutnya, saya mendatangi kantor desa untuk meminta solusi dari kekeliruan ini. Kemudian, salah satu staf administrasi di sana menjelaskan bahwa BST sudah tidak ada dan dialihkan ke BPNT. Di sini, saya merasa sedikit lebih tenang, tetapi saya tetap mengomunikasikannya juga ke Call Center LPDP. Setelah mengomunikasinya ke pihak LPDP, ternyata, saya tidak perlu khawatir dan tinggal mengunggahnya screenshot data di DTKS ke borang yang tersedia di situs pendaftaran LPDP.


Dari semuanya yang sudah saya lakukan di atas, saya tentunya mendapatkan pelajaran besar. Segala kebingungan yang terjadi bukan hanya tinggal sekedar kenangan saja, tetapi mungkin saja bermanfaat untuk para pejuang beasiswa LPDP selanjutnya. Lebih jelasnya, di bawah saya tuliskan beberapa pengalaman berharga selama berada di tahap seleksi administrasi LPDP ini.



Selalu Mengomunikasikannya

Pelajaran pertama, yaitu jika ada masalah apapun itu, kita harus mengomunikasikan kepada orang yang tepat. Selain komunikasi yang saya lakukan di poin-poin sebelumnya, berkomunikasi dengan mereka yang sudah berpengalaman sudah lulus LPDP juga merupakan hal yang penting. Intinya, jika ada beberapa hal yang masih kurang dipahami, kita dapat mencari informasi tersebut dari sumber-sumber yang membuat kita tidak kebingungan lagi. Berdasarkan pengalaman sendiri, saya pernah menghubungi kakak tingkat awardee LPDP juga untuk memperjelas informasi yang memang masih kurang begitu jelas. Di samping itu, dengan menuliskan artikel tentang pengalaman saya di tahap seleksi administrasi LPDP, hal ini juga dapat menjadi sumber untuk kalian juga, para pejuang LPDP selanjutnya. Tentunya, di artikel-artikel selanjutnya, saya juga akan membahas bagaimana saya dapat melewati seleksi Tes Bakat Skolastik (TBS) dan seleksi substansi. Setiap tahap memiliki tantangan tersendiri.



Jangan Serba Mendadak

Di tahap seleksi administrasi ini, kesalahan yang mana sekaligus menjadi pembelajaran juga, yaitu saya melakukan semuanya secara mendadak. Pada waktu itu, saya mengambil tes Bahasa Inggris benar-benar dalam keadaan mendadak. Dalam hal tes Bahasa Inggris, kalian dapat mengambilnya beberapa bulan sebelumnya supaya nanti kalian tidak terlalu kewalahan harus ke sana-sini untuk melengkapi dokumen keperluan. Lebih lanjut, jika kalian sama dengan saya mendaftar melalui jalur beasiswa prasejahtera, kalian harus mempersiapkan dokumen-dokumen pendukung bahwa kalian merupakan penerima bantuan sosial. Selain itu, pengecekan status penerima bantuan sosial juga bisa kalian periksa di situs DTKS dari sekarang-sekarang. Lebih baiknya lagi, kalian dapat menginstal aplikasi DTKS tersebut di Google Playstore. Di sana kalian dapat mendaftar untuk pembuatan akun yang mana verifikasinya akan memakan waktu berbulan-bulan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Terakhir, kalian mulai dari sekarang asah juga kemampuan menulis dalam Bahasa Indonesia terutama penulisan dengan tata kalimat yang baik dan benar sehingga dapat dicerna dengan baik oleh pembaca. Kemampuan ini akan sangat berguna sekali ketika kita akan menulis personal esai.



Pengalaman Kerja/Akademik Sangat Berharga Sekali

Ya, tidak diragukan lagi, jika kalian sekarang sedang bekerja atau kalian sudah mempunyai pengalaman berorganisasi dan bekerja, kalian selangkah lebih berpeluang untuk diterima. Namun, hal ini bukan berarti mereka yang tidak mempunyai pengalaman kerja atau organisasi sama sekali tidak bisa lulus. Hal lainnya yang menjadi pertimbangan mereka juga adalah track record akademik kita. Intinya, saran dari saya, mulai dari sekarang, segala kegiatan yang bermanfaat bagi orang-orang dan merubah Indonesia selangkah lebih baik, kalian coba ikuti saja. Tentunya, kalian dapat mencari kegiatan yang sesuai dengan karir impian kalian karena ini juga nanti akan menandakan seberapa fokus kita dalam bidang tersebut. Misalnya, saya menyukai bidang pendidikan, lalu kesukaan ini, saya salurkan melalui kegiatan-kegiatan mengajar entah secara sukarela ataupun  sebagai mata pencaharian. Selain itu, menjadi asisten dosen juga masih berkaitan dengan bidang pendidikan. Terakhir, saya juga pernah menjadi sub koordinator bidang pendidikan di himpunan mahasiswa. Semuanya pengalaman ini sudah pasti terlihat linear dan berada dalam satu bidang, yakni pendidikan. Alhasil, saya memutuskan untuk memilih jurusan pendidikan untuk program magister saya selanjutnya.


Pengumuman Lulus Seleksi Administrasi LPDP


Itulah beberapa pengalaman yang dapat saya bagikan di tahap seleksi administrasi LPDP ini. Selain berusaha, kita juga tidak boleh lupa dengan yang namanya do'a karena hal ini masih sangat kecil dibandingkan dengan Tuhan kita. Saya do'akan juga mudah-mudahan kalian yang sedang membaca artikel saya sekarang ini, dimudahkan dan dilancarkan segalanya terutama dalam proses seleksi LPDP ini. Amiin ya rabb. Semoga artikel ini memberikan manfaat untuk kalian. Sampai jumpa sobat setia Caravel di artikel berikutnya, yaitu tentang cerita seleksi bakat skolastik, Galau Seleksi Bakat Skolastik LPDP, Akhirnya Lulus!. 😇✊

2 comments:

  1. Hi Kak, it was really helpful. But, I have questions: apakah Kakak mendaftar ke kampus yang memakai hasil Duolingo test juga untuk requirements nya? atau justru pakai IELTS?

    Dan apakah kakak mengikuti persiapan bahasa dari LPDP untuk tes IELTS? If so, saya ingin bertanya lebih lanjut jika Kakak berkenan

    Many thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. apakah Kakak mendaftar ke kampus yang memakai hasil Duolingo test juga untuk requirements nya? atau justru pakai IELTS?

      Jawab: tergantung univnya, beberapa kampus di USA dan UK menerima sertifikat ini. Biasanya yang language certificate yg dipakai TOEFL iBT, IELTS, PTE, dll. Bisa dicek postingan tentang ini di https://bit.ly/lulus-tes-bahasa

      2. apakah kakak mengikuti persiapan bahasa dari LPDP untuk tes IELTS? If so, saya ingin bertanya lebih lanjut jika Kakak berkenan.

      Jawab: Saya memilih PTE Academic, bukan TOEFL dan IELTS. Persiapan hanya dilakukan melalui YouTube dan latihan-latihan soal yang ada di internet. Kalau penasaran pengalaman tes PTE Academic ini. Cek link di atas ya.

      You're most welcome and feel free to ask yah.

      Delete

Pages