Dari Cigadog, Bermimpi Besar untuk Dunia: Kilas Balik Masa Kecilku


Terlahir di sebuah Desa terpencil yang terletak di kaki pegunungan. Saya dilahirkan di sini, Desa Cigadog. Pada suatu waktu, salah satu sepupu saya akan memulai hari pertamanya untuk pergi ke sekolah. Masih teringat, saya merengek sepanjang jalan kepada mamake bahwa saya juga ingin sekolah seperti sepupu saya. Namun, mamake tersenyum sambil berkata "Enya, ngke deui Ujang mah sataun deui" yang mana artinya kurang lebih seperti ini "Iya, nanti kamu sekolah setahun lagi nanti". Ingatan sederhana ini begitu melekat sampai sekarang di kepala saya. Semangat saya untuk bersekolah sudah terlihat sejak saya masih kecil seperti teman-teman saya pada umumnya. Alasan utama saya ingin sekolah dulu karena banyak teman-teman untuk pergi bareng ketika sekolah, saya mengamati sepupu saya yang selalu pergi dengan beberapa teman-temannya di pagi hari dan terlihat menyenangkan. Inilah yang akan saya ceritakan di artikel kali ini. Saya akan menceritakan bagaimana masa kecil saya sejak berada di bangku Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Selain itu, saya juga akan merefleksikan apa saja pelajaran-pelajaran besar yang pada akhirnya membentuk saya seperti sekarang ini.



Masa SD dan Rasa Ingin Tahuku

Tahun berikutnya tiba, setelah saya sempat merengek tahun lalu kepada mamake, akhirnya ini adalah hari pertama saya pergi bersekolah. Pada saat itu, sebelum berangkat sekolah, saya sempat disuapi beberapa nasi oleh mamake. Dengan wajah gembiranya, saya pergi bersama dengan teman dekat saya. Ketika di kelas, saya masih ingat, semua murid harus berdo'a dan kemudian bernyanyi "upami abi parantos di kelas, bahamna balem, teu kenging nyarios, panangan sidakep di luhur meja, calikna ajeg, mayun ka bu guru". Entahlah, apakah nyanyian tersebut masih dipakai di sekolah atau sudah habis dimakan zaman. Namun, nyanyian tersebut sungguh meninggalkan memori yang manis untuk saya. Selain itu, ciri khas saya ketika SD, yaitu obsesi saya terhadap binatang prasejarah, yakni dinosaurus. Saya sangat menyukainya karena dulu sering meminta orang tua saya membacakan sebuah 'tajos', hadiah dari makanan ringan berisikan deskripsi binatang-binatang tersebut. Bahkan, saya meminta bapakke untuk membelikan kaset DVD Jurassic Park Collection pada waktu itu.


Selanjutnya, suatu waktu, Bu Isah, guru mata pelajaran PAI, sedang membereskan buku-buku di perpustakaan sekolah karena beliau merupakan orang yang memegang kunci perpustakaannya juga. Pada saat itu, saya berkunjung untuk menemui beliau dan ternyata ketika beliau sedang membereskan buku-buku tersebut, di sana, saya melihat sebuah buku ensiklopedia Dinosaurus dan saya pun langsung membacanya dengan antusias. Zaman itu, saya belum memegang handphone sama sekali dan sumber informasi hanya saya dapatkan dari buku-buku perpustakaan ini. Sesudah membaca dan melihat buku ensklopedia tersebut, saya langsung yakin bahwa masih banyak buku menarik yang ada di perpustakaan ini. Benar saja, saya menemukan buku-buku menarik lainnya seperti buku Kung Fu, Bencana Alam, Sigma - Madagascar, Sigma - Mars, Berlatih Komputer, dan sebagainya. Di sinilah minat baca saya semakin tinggi dan ternyata membaca buku itu membuka pikiran saya yang tadinya saya belum mengetahuinya menjadi tahu dari apa yang saya baca. Terlebih, saya terdorong oleh guru kajian saya sejak kecil yang pernah berujar "dunia teh luas, tong cicing wae di lembur" atau artinya kurang lebih "dunia itu luas, jangan diam saja di kampung". Saya mulai bermimpi untuk menjelajah dunia dan mempelajari apa yang ada di luar sana dengan membaca-baca.


Kegemaran saya dalam membaca akhirnya merambat menjadi hobi dalam menulis. Saya masih ingat, dulu pernah ada bazar buku murah di sekolah. Beberapa buku yang pernah saya beli dulu adalah Rangkuman Pengetahuan Alaman Lengkap (RPAL), Buku Lagu Wajib Nasional, Kamus Indonesia-Inggris. Ketika saya membaca RPAL, walaupun buku tersebut berisi rangkuman, saya menuliskan kembali poin-poin penting di buku catatan saya. Selain itu, sebenarnya, dulu saya ingin sekali membeli Buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL), tetapi biaya saya tidak cukup untuk membeli buku tersebut. Namun, saya tidak kehabisan akal karena ada salah satu adik kelas saya yang membeli buku tersebut dan pada waktu tertentu saya meminjam bukunya dan juga menuliskan poin-poin pentingnya di buku catatan saya sendiri. Menurut saya, inilah belajar sesungguhnya, saya merasa belajar itu sudah menjadi bagian dari kebutuhan dan ketertarikan juga karena motivasi utama saya pada waktu itu adalah saya merasa masih banyak yang perlu saya ketahui tentang dunia ini dan sangat menarik untuk dijelajah.


Setelah di atas saya mengenalkan hal-hal yang kesannya baik dari masa kecil saya, selanjutnya, saya akan mengenalkan hal-hal yang memang kurang baik. Pertama, semasa kecil, saya memang orang yang suka bermain dan aktif. Namun, keaktifan tersebut berlebih sehingga pada waktu itu, saya terkadang bertengkar dengan teman, keluguan mencuri ikan beralaskan karena kolam tersebut punyai saudaranya teman saya, selalu membuat kegaduhan di kelas, dan lainnya. 😂 Bahkan, ketika berada di bangku kelas 2, wali kelas saya, Bu Oom, beliau pernah berkata kepada saya sesudah memeriksa hasil pekerjaan saya "Yadi teh pinter, ngan bangor" atau dalam Bahasa Indonesianya "Yadi itu pintar, tapi nakal". Suatu waktu, di bangku kelas 4, saya diminta oleh Bu Nining, guru mata pelajaran Bahasa Inggris untuk membaca sebuah artikel berjudul Student Obligations untuk mengikuti lomba porsivitas Bahasa Inggris. Saya langsung terkejut, tetapi menemukan ketertarikan dari cara pengucapannya yang unik. Ketika mengikuti lomba tersebut, saya melihat orang lain yang bagus sekali Bahasa Inggrisnya dan saya merasa sedikit insecured. Kemudian, pada akhir pengumuman ternyata saya mendapat juara ke-4. 😂 Pada waktu itu, saya berbicara pada diri sendiri "Aya oge bakat lumayan gningan" atau dalam Bahasa Indonesianya "Ada bakat juga lumayan ternyata". Di sinilah, saya semakin suka mata pelajaran Bahasa Inggris.



Masa SMP, antara Putus Asa dan Bangkit

6 tahun tidak terasa saya sudah melewati semuanya, warna-warni pengalaman selama berada di jenjang SD benar-benar terasa memuaskan dengan rekor akademik terbaik di sekolah dengan mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi di sekolah. Namun, semuanya terasa berbeda setelah saya memasukki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Persaingan akademik tentunya semakin ketat dan saya di sini untuk pertama kalinya mendapatkan peringkat ke-3 di kelas. Pada dasarnya, saya tipe orang yang tidak terlalu mementingkan peringkat. Namun, ketika peringkat kelas saya menurun, saya mulai berpikir berarti saya perlu melakukan usaha yang ekstra. Lebih lanjut, entah mengapa, ketika saya dulu berada di kelas ini, saya merasakan sesuatu yang berbeda karena lingkungan yang kurang mendukung saya secara pribadi. Saya memang memiliki teman-teman yang banyak di sini, tetapi jika saya bandingkan dengan kelas yang satunya lagi, saya merasa lebih banyak dukungan dan bergaul dengan teman-teman yang memang satu frekuensi. Suatu waktu, di bangku kelas 8 SMP, saya mencapai titik terpuruk di mana saya mendapatkan peringkat 11, lingkungan yang kurang mendukung membuat saya memutuskan untuk pindah sekolah karena sudah tidak betah lagi di sekolah ini. Pada waktu itu, salah satu guru saya memberikan saran kepada saya bahwa saya sebaiknya tidak pindah ke sekolah yang lain karena itu pun tidak menjamin nantinya. Kemudian, saya memutuskan untuk pindah kelas saja saat memasukki kelas 9 SMP.


Singkat waktu, saya sudah berada di kelas 9 SMP. Di sini saya memulai semangat baru lagi dan saya berniat untuk memperbaiki performa akademik saya seperti dulu. Memang terbukti, ketika saya berada di sini saya mendapatkan peringkat ke-5 di kelas. Setidaknya, saya dapat bereksperimen sendiri bahwa lingkungan mempengaruhi semangat belajar saya pribadi. Selanjutnya, sudah tidak terasa lagi hampir 3 tahun berlalu, saya, pada waktu itu, akhirnya sampai di penghujung tahun kelas 9. Kala itu, saya dan siswa-siswi lainnya akan menghadapi UN dan saya benar-benar melakukan persiapan matang untuk hal ini. Sebelum menghadapi UN, biasanya, semua sekolah mengadakan Try Out (TO) selama dua kali. Di TO yang pertama saya berada di peringkat 32. Peringkat siswa dapat dilihat di mading-mading sekolah biasanya. Selanjutnya, di TO yang ke-2 saya berada di peringkat 18 dari di sekolah saya ini. Saya pun semakin serius dengan berfokus pada kekuatan saya. Mengejutkannya, ketika hari perpisahan di SMP tiba, saya dipanggil ke depan karena masuk menjadi juara ke-10 dalam UN di sekolah. Saya tidak sedikit pun berpikir bahwa saya akan masuk menjadi juara ke-10. Mengapa? karena saya sudah tidak percaya diri dengan rekam jejak akademik dulu yang buruk terutama pada saat kelas 8. Di sini, saya mulai sadar bahwa Bahasa Inggris menjadi nilai tertinggi di ijazah saya. Dulu saya benar-benar menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris dan memang dari nilai UN dan nilai akhir pun yang terbesar adalah Bahasa Inggris.



Masa SMK, Masa Pencarian Jati Diri

Tidak terasa, Yadi di masa ini harus semakin siap dengan masa depannya karena sekolah yang dipilihnya adalah SMK. Anak-anak SMK sering diindetikan dengan kesiapannya untuk menghadapi dunia kerja ketika nanti sudah melewati 3 tahun jenjang pendidikan kejuruan ini walaupun sebenarnya saya sendiri merasa belum siap secara mental. Namun, pada waktu itu, saya berpikir mungkin ini hanya awal saja merasa belum siap seperti ini, nanti mungkin akan lebih bersikap dewasa lagi. Di fase ini, saya mulai mengikuti beberapa ekstrakulikuler karena mungkin ini akan bermanfaat untuk saya nanti ke depannya. Well, singkatnya, setelah satu tahun berlalu, saya kemudian berada di bangku kelas 11 dan saya merasa sedikit percaya diri dengan jurusan yang saya ambil, yakni Multimedia. Saya suka dengan desain grafis dan lebih spesifiknya dalam aplikasi Photoshop. Kemudian, ada suatu momen di mana salah satu guru yang masih baru di sekolah, namanya Pak Faiz. Beliau sempat memberitahukan informasi tentang tes buta warna. Di sini, teman-teman dan saya mencoba mengambil tes tersebut. Ternyata, saya seorang penderita buta warna parsial. Saya sangat terkejut dan begitu khawatir dengan masa depan saya. Saya benar-benar mulai berpikir dan lebih serius terhadap masa depan saya karena saya hanya anak satu-satunya di keluarga dan tentunya menjadi harapan satu-satunya orang tua saya. Jujur saja, pada awalnya saya sangat depresi karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Suatu waktu, ketika saya sedang berada di perpustakaan, saya melihat petugas perpustakaan membereskan banyak sekali buku. Ternyata buku-buku tersebut merupakan buku-buku baru untuk di perpustakaan. Menariknya, ada beberapa buku tentang pengembangan diri contohnya Be Super You (100+ prinsip untuk menggapai impian), Orang Desa Bisa Mengembangkan Diri, Melawan Rasa Takut, dan sebagainya. Tentunya, saya langsung meminjam buku-buku tersebut untuk saya baca di rumah. Lambat laun, saya mulai paham dan bepikir lebih bijaksana bahwa sebenarnya hidup ini bukan tentang menunggu "nanti juga dewasa". Namun, cara berpikir 'dewasa' itu sendiri dapat dimulai sejak saya berada di bangku SMK. Lebih lanjut, saya merefleksikan kembali bahwa sebenarnya saya diberitahukan bahwa saya buta warna pada saat itu adalah pertanda bahwa saya harus lebih giat menggali siapa saya sebenarnya dan apa tujuan hidup saya sebenarnya. Alhasil, frekuensi saya berada di perpustakaan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Saya pernah membaca buku-buku tentang Restoran, Perhotelan, Geografi, Pemrograman, Bahasa Inggris, dan sebagainya. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mempelajari Bahasa Inggris lebih mendalam. Mengapa? saya dulu mempertimbangkan untuk lebih mengasah Bahasa Inggris karena ini sangat relevan dengan ketertarikan saya terhadap pelajaran Bahasa Inggris dari kecil. Selain itu, sumber daya yang dibutuhkan tersedia banyak sekali di internet bahkan dalam hal praktik pun saya dapat memanfaatkan teknologi internet ini.


Di sini, saya sudah mulai memahami ketertarikan saya dan ketika mempelajarinya pun saya sangat menikmati prosesnya. Dulu, saya sangat sering sekali pergi ke Warung Internet (Warnet) terdekat. Ya, setiap saya berada di warnet, salah satu aktivitas yang saya sering lakukan, yaitu mengunduh video-video Bahasa Inggris. Lebih lanjut, saya juga sering praktik berbicara Bahasa Inggris di Skype dengan orang lain dari berbagai negara. Saya masih ingat ketika pertama kali saya berbicara Bahasa Inggris dengan teman saya, namanya Abdurrahman dari Mesir dan saya mengucapkan Bahasa Inggris dengan malu-malu. Namun, teman saya tersebut malah mendorong saya untuk melanjutkan apa yang ingin ditanyakan oleh saya dalam Bahasa Inggris dan dia akan menjawabnya. Singkatnya, setelah latihan pertama selesai, saya semakin tertarik lagi karena bukan hanya praktik Bahasa Inggris, tetapi ternyata kita bisa mengobrol banyak hal tentang negara masing-masing. Minggu selanjutnya, saya pergi ke warnet lagi dan kali ini saya sudah menyiapkan beberapa pertanyaan dalam Bahasa Inggris yang sudah saya tuliskan di buku catatan saya. Jujur saja, rutinitas ke warnet ini menjadi salah satu aktivitas yang bermanfaat sekali untuk saya pribadi karena pada waktu itu saya belum mempunyai laptop. Secara perlahan, saya terbiasa dengan penggunaan Bahasa Inggris dan saya juga mulai memperbanyak referensi lagu-lagu Bahasa Inggris untuk melatih pengucapan saya. Alhasil, semua pengorbanan tidak sia-sia dan hal ini terbukti dari nilai raport saya dengan nilai 90 dan hasil UN saya 80.


Setelah satu tahun lamanya, akhirnya, saya berada di penghujung masa-masa SMK. Di tahun ini, saya sudah sedikit merasa nyaman karena saya sudah tahu siapa diri saya sebenarnya dengan keputusan-keputusan yang akan diambil nantinya. Ada dua persoalan paling besar yang saya hadapi di tahun terakhir saya bersekolah di sini. Pertama, di awal tahun saya belum memiliki laptop sementara saya berada dalam jurusan Multimedia. Sebenarnya, saya sempat meminta laptop kepada orang tua saya sejak awal masuk SMK. Namun, jawaban yang sama terdengar kembali ke kuping saya, yakni "Enya, ngke deui we tahun hareup sugan aya milik, ayeuna mah can aya duitna, jang" yang mana dalam Bahasa Indonesia artinya kurang lebih "Iya, nanti saja tahun depan siapa tahu ada rezekinya, sekarang mah belum ada uangnya, nak". Kalau dibilang sedih, pastinya saya sedih dan bahkan saya pernah berjanji bahwa jika saya mempunyai laptop, kehidupan saya akan benar-benar berubah karena saya akan memanfaatkan teknologi internet dan penyimpanan berkas-berkas yang lebih besar. Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi saya karena saya masih dapat memanfaatkan gawai yang saya miliki. Kedua, masalah besar yang saya hadapi adalah keinginan saya untuk berkuliah, tetapi tidak tahu sama sekali harus bagaimana dan dari mana mulainya. Untungnya, pada waktu itu, saya mengajukan pertanyaan kepada Pak Faiz bahwa saya ingin kuliah dan bagaimana caranya. Akhirnya, beliau memberikan gambaran umum tentang SNMPTN, SBMPTN, dan Bidikmisi dan sampai akhirnya, saya dapat mengikuti seleksi tersebut dengan berbagai cobaan dan kegagalan yang berujung gap year. Di artikel sebelumnya, Hikmah Gap Year, Ngapain Aja?, saya sempat bercerita bagaimana rasanya gap year dan apa saja hikmah dibaliknya.


Itulah cerita singkat bagaimana Yadi si kecil yang kemudian tumbuh besar dan mulai mencoba berusaha mengenali dirinya dan tujuan dia sebenarnya. Cerita hanyalah cerita, tetapi cerita akan menjadi suatu hikmah jika kita dapat merefleksikannya. Tentunya, di bawah ini saya akan merefleksikan apa saja pelajaran yang dapat diambil dari cerita singkat di atas.


Di Perpustakaan SMK (2016)

1. Membaca adalah Jendela Dunia

Pada dasarnya, alasan utama saya gemar membaca adalah saya selalu berpikir bahwa dunia itu luas dan banyak sekali yang bisa dipelajari daripada diam saja tidak melakukan apapun dan tidak ada gairah sama sekali. Tentunya, setiap orang berbeda-beda, tetapi satu hal yang harus kita ingat bahwa perintah membaca itu sudah ada dalam Al Quran dan bahkan menjadi ayat pertama yang turun, yakni Surah Al Alaq yang berbunyi "Iqra" berarti "Bacalah". Membaca dan menyimak informasi positif yang manarik untuk anak sangat penting sekali. Jika kalian memiliki anak, adik, ataupun saudara kalian. Coba jadwalkan waktu untuk membacakan mereka sebuah cerita dari buku-buku, memberikan mereka buku-buku ensiklopedia, memberikan tontonan yang edukatif seperti Si Unyil, Dunia Binatang, Dunia Air, dan sebagainya. InshaAllah, jika mereka terbiasa membaca, pastinya rasa penasaran si anak akan semakin tinggi terhadap hal tersebut. Misalnya, saya dulu sering membaca ensiklopedia dinosaurus dan semakin penasaran sehingga pada akhirnya, saya membeli kaset DVD Jurassic Park karena saya ingin melihat bagaimana dinosaurus jenis ini dalam filmnya. Sebenarnya, inti dari kebiasaan membaca sejak dini adalah membentuk rasa butuh kita terhadap pengetahuan. Bukankah senang jika kita melihat anak, adik, atau saudara kita lebih bersemangat dalam hidupnya dan mencoba bertanya-tanya tentang hal-hal yang terus bermunculan di pikirannya? Kebiasaan ini akan membantu sekali suatu saat nanti karena dengan mengumpulkan banyak pengetahuan, setidaknya kita akan memiliki rasa butuh untuk belajar dan meningkatkan kemampuan diri.


Kuantitas + Kualitas, KKN 27 💝

2. Bukan Hanya Kuantitas, tetapi Juga Kualitas

Poin ini merupakan poin yang paling penting menurut saya. Pertama, dalam hal pertemanan, kuantitas memang menjadi hal penting, tetapi ingat kualitas juga harus diperhatikan. Kita harus dikelilingi orang-orang yang memang mendukung satu sama lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, jangan hanya memperbanyak teman saja, tetapi kita juga harus mengutamakan orang-orang yang dapat membantu meningkatkan kemampuan kita lebih baik lagi. Misalnya, saya berteman dengan salah satu teman saya yang mana bukan hanya teman untuk bersenang-bersenang saja, tetapi saya sering berdiskusi dengan teman saya tersebut tentang isu-isu yang terjadi di dunia dan hal-hal yang berbau politik. Tentu saja, ada waktunya kami bersenang-senang main ke mana, tetapi ada waktunya pula untuk menyempatkan pembicaraan yang memang dapat meningkatkan wawasan kita menjadi lebih banyak lagi. Perlu diingat, kuantitas akan jauh lebih baik jika dibarengi dengan kualitas. Lebih jelasnya, Allah sudah menerangkannya dalam Surah Al Asr ayat 3. Kedua, yaitu dalam hal nilai. Mendapatkan nilai A atau 100 dalam setiap mata pelajaran ataupun menjadi juara umum satu sekolah memang merupakan hal yang membanggakan. Namun, jika kita hanya terpaku pada apa yang tertulis di atas kertas apakah kita sudah dapat dikatakan bijak? Tidak, justru nilai tersebut menjadi tanggung jawab besar untuk kita. Misalnya, jika kita mendapatkan nilai A dalam sebuah mata pelajaran, kita harus mulai memantaskan diri bahwa kita cocok untuk mendapatkan nilai tersebut. Perlu diingat, pengajar akan menilai bukan hanya dari materi saja, tetapi dari sikap dan kriteria-kriteria yang lainnya juga.



Menjadi Pemandu Lokal selama Gap Year

3. Tantangan = Kesempatan

Saya sempat menceritakan bahwa saya buta warna. Setelah saya depresi waktu itu dan akhirnya membaca buku-buku yang ada di perpustakaan, saya merasa sedikit lebih lega dan termotivasi untuk bangkit kembali. Terutama, ketika saya membaca di internet orang terkenal Mark Zuckerberg pun dia merupakan seseorang yang menderita buta warna parsial. Lantas, hal tersebut menaikkan kepercayaan diri saya kembali. Saya semakin percaya bahwa Allah menakdirkan sesuatu bukan berarti kita harus berhenti dan menyerah di sana. Salah satu hikmah besar yang saya rasakan adalah bisa berbahasa Inggris lebih lancar lagi karena keadaan buta warna tersebut mendorong saya untuk mencari kemampuan yang dapat dipakai nanti di masa yang akan datang. Contoh lainnya, yaitu Allah menakdirkan hambaNya tidak dapat melihat seperti kebanyakan. Apakah ada keuntungan untuk mereka yang tidak dapat melihat indahnya dunia ini? Tentunya ada, kesempatan mereka untuk berzina mata akan hilang karena di balik indahnya dunia tentunya banyak sekali ujian yang datang kepada kita. Intinya, bersyukur adalah kuncinya dan selalu melihat hikmah di balik apa yang terjadi pada kita. Rasa sakit atau bahagia adalah hal yang normal di dunia ini. Jika kita ingin menangis, menangislah! tetapi ingat harus segera kita selesaikan dengan cara berjuang kembali, tidak cukup hanya dengan menangis saja. Sebaliknya, jika kita bahagia, berbahagialah, tetapi kita harus ingat tanggung jawab kita di dunia ini untuk terus berusaha menjadi pribadi yang dapat mengendalikan diri. Allah pun berfirman demikian pula dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 140.


Itulah cerita singkat bagaimana masa kecil saya dengan berbagai pelajaran yang saya dapatkan dan sangat berguna untuk saya pribadi. Saya menceritakan hal ini bukan berarti saya merupakan orang yang sempurna dan bebas dari dosa. Namun, saya setidaknya ingin berbagi jika seandainya pernah ada di posisi yang sama. Tentunya, setiap orang memiliki jalan hidup yang uniknya masing-masing. Seunik apapun jalan hidup kita, tentunya kita harus berusaha mengendalikan dan mengemudikannya. Tidak jauh seperti berkendaraan, terus mengemudi dan berjuang mencapai tujuan. Jikalau kita merasa lelah, kita dapat berhenti sejenak, tidak perlu memaksakan diri karena akan berbahaya untuk keselamatan hidup kita juga. Semoga kita selalu diberikan kesabaran dan kesuksesan di dunia serta akhirat. Amiin ya rabb! See you in the next post! 😊

No comments:

Post a Comment

Pages