Teori Tipologi Kepribadian dari Carl Jung


Dalam pembahasan tentang MBTI dan teori Carl Gustav Jung, ada satu fondasi penting yang sering terlewat, yakni tipologi itu sendiri. Apa sebenarnya tipologi? Mengapa teori ini penting? Dan kenapa di saat yang sama konsep ini juga bisa berbahaya jika disalahgunakan? Artikel ini akan membahas tipologi lebih mendalam lagi, bukan hanya sekadar sebagai label, tetapi sebagai alat untuk mengenali diri kita sendiri.


Versi Video Pembelajaran


Apa Itu Tipologi?

Carl Jung menyebut tipologi sebagai alat penting untuk membantu menyederhanakan kompleksitas pengalaman manusia. Dengan kata lain, teori ini hadir sebagai “peta”, bukan sebagai “penjara”. Namun di sinilah letak bahayanya juga. Ketika tipologi dipakai untuk menyederhanakan, ini tentunya bisa membantu kita mengenali diri. Namun berbeda halnya, ketika tipologi ini dipakai untuk mengkotakkan dan di sinilah malah bisa membatasi diri kita.


Inilah salah satu alasan mengapa MBTI sering disebut pseudo-science. Tetapi yang perlu digarisbawahi, yakni teori delapan fungsi kognitif dari Jung merupakan bagian dari teori psikologi analitik yang sudah well-established dan menjadi dasar banyak teori modern. Jadi, persoalannya bukan pada alatnya, melainkan pada cara kita menggunakannya.


Tipe Kepribadian Itu Dinamis

Banyak orang takut belajar tipologi karena khawatir akan terjebak dalam label.


“Kalau saya ISTP, berarti saya harus begini?”

“Kalau saya bukan tipe tertentu, berarti saya tidak bisa jadi ini?”


Jawabannya, tidak. Kepribadian itu dinamis. Kita memang memiliki ego (sisi kesadaran), tetapi kita juga memiliki sisi yang tidak disadari (unconsciousness), alam bawah sadar (subconsciousness), bahkan superego. Dalam teori Jung dijelaskan bahwa ketika ego tidak mampu menyelesaikan masalah, ranah ketidaksadaran bisa mengambil alih.


Dan saat kita semakin sadar akan pola diri, kita mulai bergerak ke ranah yang lebih bijak (tetapi bisa menjadi paling berbahaya juga jika belum mengintegrasikan sisi jiwa yang lainnya), yakni superego. Di titik ini, kita menyadari bahwa ego (kesadaran/identitas) bukan hanya satu-satunya cara melihat dunia, tetapi ada sisi jiwa dalam diri kita yang lainnya. Itulah esensi belajar tipologi, untuk meningkatkan kesadaran, bukan mempersempit identitas.


Tes Online Boleh, Tapi Jangan Berhenti di Situ

Banyak orang mengenal tipe kepribadian dari kuis online seperti 16personalities.com. Itu tidak salah. Namun ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan:

  • Ambil dari berbagai sumber.
  • Beri jarak waktu. Coba tes lagi satu bulan kemudian.
  • Perhatikan konsistensinya.
  • Pelajari fungsi kognitifnya, bukan hanya empat hurufnya.


Karena kepribadian itu dinamis. Hasil bisa berubah dan itu tidak apa-apa. Yang terpenting bukan labelnya, melainkan kesadaran akan motif dan pola berpikir kita.


Kognisi dan Perilaku, Apa Bedanya?

Dalam teori ini, kita perlu memahami perbedaan antara:

  • Kognisi: proses mental meliputi memahami, menilai, dan membuat keputusan.
  • Perilaku: manifestasi nyata dari proses mental tersebut.


Tanpa kognisi, perilaku tidak memiliki makna. Misalnya, dua orang sama-sama menjadi entrepreneur. Dari luar terlihat sama. Tapi motifnya bisa berbeda total karena fungsi kognitif yang berbeda. Contoh lainnya, dua orang bisa sama-sama ramah, tetapi alasan di balik keramahan itu berbeda. Inilah yang membuat manusia unik.


Tipologi Bukan Ukuran Kecerdasan atau Kestabilan Emosi

Kesalahan paling umum adalah menganggap tipe tertentu lebih cerdas atau lebih stabil secara emosional. Hal ini tentunya sangat keliru. Kecerdasan dipengaruhi banyak faktor. Setiap tipe memiliki potensi kecerdasan dalam ranah yang berbeda sesuai fungsi kognitifnya, bahkan satu ENTJ pun masih banyak hal-hal lainnya yang perlu digali.


Begitu pula dengan kestabilan emosi, itu bisa dipengaruhi oleh pengalaman hidup, trauma, dan respons individu terhadap lingkungan. Bahkan dua orang dengan tipe MBTI yang sama juga bisa sangat berbeda karena pengalaman mereka berbeda. Jadi, hindari stereotipe seperti xSTP harus jago olahraga, IxSP pasti anak seni. Tipe tertentu pasti cocok jadi entrepreneur. Semua tipe bisa menjadi apa saja. Yang berbeda adalah motif dan pendekatannya.


Kepribadian Itu Interaktif

Kepribadian tidak berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh:

  • Stres
  • Tekanan sosial
  • Kondisi mental
  • Pengalaman masa lalu


Itulah sebabnya kita bisa terlihat berbeda di situasi berbeda. Kita juga memiliki delapan fungsi kognitif, yakni empat bersifat ekstrovert dan empat introvert. Semua ada dalam diri kita. Hanya saja ada yang dominan dan ada yang lebih lemah. Seiring bertambahnya usia dan kematangan berpikir, kita belajar menyeimbangkan fungsi tersebut. Contohnya, seseorang yang sangat ekstrovert saat kecil bisa tampak lebih introvert saat dewasa. Bukan karena berubah total, tetapi karena sisi introvertnya mulai berkembang. Perkembangan ini bukan soal umur, tetapi soal kesadaran atau kematangan pemikiran.


Ego, Trauma, dan Perjalanan Mengenal Diri

Jika kita benar-benar mendalami kepribadian, kita akan menemukan korelasi dengan pengalaman masa kecil dan trauma. Setiap orang punya trauma dan tidak ada yang benar-benar bebas darinya. Sering kali pola kognitif kita terbentuk sebagai coping strategy terhadap pengalaman tersebut.

Belajar tipologi membantu kita:

  • Mengenali ego kita.
  • Menyadari sisi jiwa yang lainnya (subconsciousness, unconsciousness, dan superego).
  • Mengembangkan sisi yang lemah.
  • Tidak terlalu melekat pada identitas.


Jadi, Untuk Apa Belajar Tipologi?

Tujuannya bukan untuk mencari kesamaan mutlak, bukan pula untuk membatasi pilihan karier ataupun untuk menentukan siapa lebih unggul, tetapi tujuannya adalah:

  • Meningkatkan kesadaran diri
  • Membuat keputusan lebih matang
  • Memahami motif di balik tindakan
  • Mengembangkan potensi sesuai kecenderungan alami


Ketika digunakan dengan bijak, tipologi membantu kita melihat pola kepribadian kita. Jika disalahgunakan, ini menjadi batasan. Intinya, yang membuat kita manusia bukanlah labelnya, melainkan makna di balik cara kita berpikir dan bertindaknya. Belajar tipologi adalah masalah perjalanan untuk memahami diri sendiri lebih mendalam. Bukan untuk membatasi, tetapi untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada.

No comments:

Post a Comment

Pages