4 Teknik Mengajar Bahasa Inggris yang Baik dan Benar

  

 

Selamat datang kembali sobat Caravel semuanya! setelah kita memahami pentingnya untuk menyeimbangkan antara kualitas konten dan teknik dalam mengajar di postingan sebelumnya, di postingan kali ini kita akan membahas tentang metode-metode dasar dalam mengajar. Simplifikasi materi atau lazim kita sebut sebagai penyederhanaan materi merupakan hal yang masih belum diperhatikan oleh beberapa guru dalam mengajar siswa-siswanya. Penyampaian kita kepada siswa harus benar-benar dapat dipahami secara mudah karena semua siswa berbeda-beda dalam cara memahami materi dilihat dari banyak faktor seperti kesehatan mereka, pengetahuan awal mereka, dan sebagainya.

 

Lev Vygotsky mengemukakan konsep Zone Proximal of Development (ZPD) yang mana guru harus memahami bahwa setiap pelajar akan berada di antara tiga zona ini. Zona yang pertama adalah zona di mana siswa sudah bisa melakukan sesuatu tanpa bimbingan seorang guru. Selanjutnya, zona yang mana siswa tidak dapat melakukannya sama sekali. Terakhir, zona di mana pelajar dapat melakukan sesuatu dengan bimbingan dari seorang guru. Zona inilah yang disebut dengan ZPD tadi. Selain itu, Stephen Krashen, seorang ahli teori dalam bidang ESL, mengemukakan teori yang mirip dengan ZPD sebelumnya. Teori ini dinamakan dengan istilah Input Hypothesis. Lebih lanjut, teori ini menjelaskan bahwa para pelajar harus menerima asupan materi yang sedikit baru dan sedikit sulit atau dalam teori ini disebut juga sebagai i+1 (input + new information) atau zona ketiga tadi, yaitu ZPD. Dr. Shane Dixon dari Arizona State University membagikan pengalamannnya ketika salah satu anak didiknya berada di kelas level dasar dengan kemampuannya dan keaktifannya yang menakjubkan di dalam kelasnya, kemudian suatu waktu dia meminta untuk menghadiri kelas yang levelnya tingkat lanjutan. Beliau masih mengingat yang tadinya dia selalu tersenyum dan aktif di kelas seketika raut dahinya mengerut dan sesudah kelas tersebut anak didiknya berkata bahwa ketika berada di kelas sebelumnya dia dapat memahami bahasa yang digunakan oleh beliau, tetapi dalam kelas tingkat lanjutan ini dia merasa bahwa Dr Shane berbicara dengan bahasa yang berbeda. Dalam kasus tersebut, Krashen menyebutnya sebagai i+10 (input + banyak informasi baru). Informasi tersebut terlalu kompleks atau sulit untuk dicerna oleh siswa. Sebaliknya, jika i+0 (input + tidak ada informasi baru), siswa tidak akan mendapat pemahaman baru apapun selain hasil ulasan materi yang sudah mereka pahami.


Contoh:

i+0 = Siswa mengulang-mengulang materi kata benda dalam bahasa inggris seperti apa itu dog, cat, rabbit yang sebenarnya sudah mereka pelajari di kelas 1 SD.

i+1 = Siswa mengulang materi kata benda dan mendapatkan informasi baru seperti penambahan kata sifat pada kata benda yang sudah mereka pelajari menjadi big/small dog, cat, rabbit.

i+10 = Siswa mengulang materi kata benda dan mendapatkan informasi baru yang banyak seperti penambahan kata sifat, membuat kalimat, penambahan kata keterangan pada kalimat, dan sebagainya.

 

Simplifikasi materi dalam mengajar mungkin sudah diterapkan oleh kita baik secara sadar atau tidak sadar. Beberapa dari kita ada yang sangat outcome-oriented atau berorientasi pada hasil yang mana pada akhirnya membuat kita bertanya-tanya bagaimana supaya anak-anak kita dapat memahami materi yang dirasa sangat menantang ini. Ini sebenarnya merupakan langkah awal yang baik karena tentunya sebagai guru kita harus berusaha membimbing siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan. Beberapa teknik yang biasanya kita gunakan dan masih efektif serta lazim digunakan sampai sekarang adalah sebagai berikut.


1. Perumpamaan

Tidak dapat diragukan lagi, teknik yang satu ini sangat membantu sekali siswa dalam memahami materi. Teknik simplifikasi yang satu ini sangatlah lazim digunakan dalam mengajar. Ketika siswa mencerna pengetahuan yang kita sampaikan, mungkin saja beberapa anak-anak belum memahami apa yang sudah kita jelaskan. Penggunaan teknik perumpamaan ini yang membantu sekali ketika kita mengajar di kelas supaya anak-anak lebih mudah memahami materi. Thomas dan McRobbie (2001) mendefinisikan metafora atau perumpamaan sebagai teknik komunikasi yang digunakan untuk menjelaskan konsep yang sulit untuk dipahami (p. 225). Lebih jelasnya, penelitian sebelum-sebelumnya yang menggunakan teknik ini di antaranya, yaitu penilaian pandangan siswa terhadap teknik belajar mereka (Berry & Sahlberg, 1996), pengembangan strategi membaca, metakognisi, dan motivasi (Paris & Oka, 1986), dan penelitian pandangan-pandangan siswa terhadap diri mereka sendiri sebagai pelajar Kimia (Thomas & McRobbie, 1999). Contoh penerapan teknik ini, yaitu ketika kita menjelaskan tentang "Pentingnya Fokus dalam Kehidupan", kita dapat mencari salah satu contoh situasi yang sama dengan topik tersebut yang kita sedang bahas, misalnya, membandingkan "Pentingnya Fokus dalam Hidup" ibarat "Kita Melepas Dua Kelinci dan Mencoba Menangkapnya Sekaligus dalam Satu Waktu". Alhasil, anak-anak dapat mencerna materi yang tadinya masih terdengar umum dan kemudian  dapat memahami lebih baik dengan adanya logika sederhana dari sebuah perumpamaan.


2. Bahasa Tubuh

Teknik selanjutnya yang kita dapat terapkan adalah penggunaan bahasa tubuh. Penggunaan bahasa tubuh merupakan salah satu elemen paling penting dalam komunikasi. Lebih lanjut, Ezeh et al. mendefinisikan komunikasi non-verbal ini sebagai proses untuk menyampaikan makna dalam bentuk pesan-pesan yang tidak menghasilkan kata-kata seperti ekspresi wajah, kontak mata, gestur, postur badan, dan sebagainya (2021). William Cope, seorang Profesor di University of Illinois at Urbana-Champaign, beliau pernah mengatakan bahwa ketika kita melakukan komunikasi, dalam hal ini, yaitu berbicara, pastinya kita berpikir terlebih dahulu di dalam pikiran kita. Proses berpikir tersebut disebut dengan representation. Selanjutnya, untuk memudahkan kita dalam proses representation tersebut, terkadang kita menuliskan sesuatu. Momen ketika kita menuliskan sesuatu tersebut dengan tujuan untuk membantu kita memudahkan komunikasi, beliau mengistilahkannya dengan cognitive prosthesis. Cognitive prosthesis adalah sesuatu yang kita bisa tambahkan ke proses berpikir kita sehingga dapat berpikir terhadap sesuatu lebih optimal. Dalam hal ini, bahasa tubuh juga merupakan salah satu bentuk dari cognitive prosthesis. Misalnya, dalam pramuka kita pasti tahu dengan yang namanya semaphore. Benar sekali, itu adalah salah satu bentuk dari cognitive prosthesis ketika kita ingin berkomunikasi dengan gerakan tangan. Menariknya, Profesor Mary Kalantzis menjelaskan bahwa kita dilahirkan ke dunia yang mana setiap individu berkomunikasi dengan modes yang berbeda, namun saling berkaitan satu sama lain. Beliau menyebutnya dengan istilah synaesthesia. Yah, ternyata kita secara sadar atau tidak sadar menggunakan modes dalam satu waktu ketika berkomunikasi dengan orang lain atau diri sendiri. Jadi, dengan melibatkan gestur atau bahasa tubuh dalam menyampaikan materi kepada anak-anak akan mempermudah mereka mencerna materi yang kita sampai kepada mereka.


3. Teacher Talk

Teacher talk merujuk pada bahasa yang digunakan guru ketika mengajar di kelas (Rahmani et al., 2021). Selain itu, Dr. Shane Dixon, seorang doktor dari Arizona State University, menjelaskan bahwa teacher talk adalah sebuah keharusan terhadap seorang guru untuk berbicara dengan cara yang sederhana untuk mengakomodasi level mereka saat ini. Intinya, ketika kita berbicara pastinya akan menyesuaikan dengan level lawan bicara kita. Tentunya, topik pembicaraan yang dibahas dengan anak-anak usia 4 tahun akan berbeda dengan orang yang sudah dewasa, baik itu pembendaharaan kata ataupun aspek yang lainnya. Begitu juga ketika kita mengajar, hal yang paling penting adalah bagaimana agar peserta didik dapat mencerna apa yang kita sampaikan kepada mereka dengan mudah. Berikut merupakan beberapa contoh-contoh teacher talk beserta penjelasannya.

  • Pengulangan

Pengulangan memang salah satu cara efektif supaya peserta didik dapat mengingat materi lebih baik. Sesuai apa yang adalah prinsip Gagne's Nine Events of Instruction yang mana salah satu dari prinsip tersebut, yaitu stimulating recall of prior learning merekomendasikan kita sebagai guru untuk mengulangi pembelajaran yang sudah dipelajari di bagian sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi yang akan dipelajari sekarang (Kruse, 2009). Biasanya beberapa ungkapan yang kita bisa gunakan di kelas seperti dengan kata lain, kita ulangi satu kali lagi ya, coba kita ulas kembali materi yang dipelajari minggu kemarin, atau bahkan di akhir pelajaran kita dapat membuat permainan yang berkaitan dengan materi yang baru saja sudah dipelajari.

  • Penyederhanaan tata bahasa

Menjadi guru bahasa, kita tentunya perlu menyederhanakan penggunaan bahasa yang kita sampaikan kepada siswa. Dalam hal ini, ketika kita menjelaskan sesuatu yang kompleks, kita harus memastikan bahwa kalimat-kalimat yang kita sampaikan tidak berbelit-belit. Misalnya, kita mengatakan "Pas tugas-tugas kalian diperiksa, bapak menemukan beberapa kekeliruan", tetapi kita dapat menyederhanakannya kembali dengan mengatakan "bapak menemukan kekeliruan dalam tugasnya". Lebih jelasnya, ketika mempelajari Bahasa asing kita tidak dianjurkan menggunakan kalimat kompleks (complex sentence) dan pasif jika level si peserta didik masih pemula. Contoh dalam Bahasa Inggris, daripada mengatakan "congratulations on your achievement! you deserved to become the first winner", kita dapat menyederhanakannya menjadi "congratulations! you deserved it!" Menyampaikan materi dengan kalimat aktif dan sederhana akan jauh lebih dapat dipahami dibanding dengan unsur gramatika yang terlalu sulit untuk dicerna oleh peserta didik.

  • Penyederhanaan kosakata
Hal yang lazim terjadi di beberapa dari kita, yaitu ketika menyampaikan suatu materi, kita tidak melihat apakah kosakata tersebut merupakan hal yang baru untuk peserta didik atau tidak. Tentunya ketika kita berkomunikasi harus sesuai konteks. Lebih lanjut, ketika kita berkomunikasi dengan anak-anak kita, sesuaikan penggunaan kosakata dengan level pemahamannya. Mengganti kata "penting" dengan "signifikan" pada anak-anak sekolah dasar dirasa kurang tepat, kita dapat memakai kata tersebut pada tingkatan perguruan tinggi paling tidak.

  • Signpost expressions
Yang dimaksud dengan signpost expressions, ini merujuk pada kata-kata transisi seperti konjungsi atau ungkapan lainnya yang membantu sebuah pembicaraan menjadi lebih mengalir. Misalnya, ketika kita berbicara dengan suatu prosedur atau cara kerja, kita harus melibatkan beberapa ungkapan seperti pertama-pertama, selanjutnya, kemudian, dan unsur bahasa yang lainnya. Contoh lebih lanjutnya signpost expressions dapat berupa contohnya, ah pertanyaan yang menarik, menurut pandangan saya, dan sebagainya. Dalam bahasa inggris, kita dapat menggunakan ungkapan seperti let me begin with, first of all, now we'll move on to, for instance dan lainnya. Penggunaan signpost expressions ini sangat berguna untuk membiasakan peserta didik dengan kosakata baru yang kita gunakan tersebut karena dapat disampaikan dalam materi apapun. Selain itu, dengan menggunakan signpost expressions juga akan memberikan kemudahan pada peserta didik untuk memahami materi karena mereka dapat mengikuti penjelasan yang koheren dan mengalir.

  • Keterlibatan kultur
Unsur kebudayaan sangat penting juga dalam membantu pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan oleh pengajar. Misalnya, dalam belajar Bahasa Inggris, mengajarkan teks naratif akan lebih mudah untuk anak-anak memahaminya ketika cerita yang disampaikan tentang Gunung Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Situ Bagendit, dan lainnya. Jadi, setidaknya beberapa dari mereka sudah mengetahui bagaimana alur ceritanya sehingga ketika guru menceritakannya dalam Bahasa Inggris, peserta didik dapat menebak dengan mudah apa yang maksudnya (dengan bantuan bahasa tubuh).

  • Penguraian informasi

Ketika seorang pelajar mengalami kesulitan terhadap salah satu kosakata dalam Bahasa Inggris, seringkali beberapa dari kita hanya memberi tahu artinya secara langsung. Namun, masih ada cara yang dapat kita lakukan agar kosakata tersebut dapat dipahami dengan baik, yaitu kita mencari informasi spesifik terhadap kosakata tersebut apa definisinya di kamus dan bagaimana contoh penggunaannya. Lebih lanjut, kita dapat menambahkan berbagai macam bantuan lainnya seperti gambar, audio, atau video. Alhasil, dengan menggabungkan konsep multimedia tersebut, peserta didik akan dapat menggambarkan suatu kosakata dengan jelas sesuai dengan konteksnya.


  • Klarifikasi

Selanjutnya, untuk memastikan apakah peserta didik sudah memahami materi yang kita sampaikan atau belum, kita biasanya menanyakan apakah mereka sudah mengerti atau belum. Lebih lanjut, cara terbaik untuk menanyakan kepada peserta didik, yaitu menggunakan teknik CCQs (Concept Checking Questions). Alasan kita menggunakan teknik ini adalah untuk lebih menggali pemahaman mereka sampai sejauh mana. Jadi, dari pada kita menanyakan "apakah kalian mengerti?" karena jawabannya pasti iya atau tidak, lebih baik kita bertanya "so, what are you doing now?" jika kita sudah menjelaskan tentang simple present continuous tense dalam mata pelajaran Bahasa Inggris atau dalam mata pelajaran Seni Budaya kita dapat menunjukkan sebuah patung dan sebuah gambar dari komik, kemudian kita bertanya "Nah, sekarang coba kita lihat apa perbedaan dasar dari dua karya seni rupa ini?" jika mereka sedang mempelajari tentang karya seni rupa 2D dan 3D. Jika seandainya mereka belum tepat menjelaskan pertanyaan yang kita lontarkan, kita dapat menjelaskan ulang atau mengklarifikasi bagian yang kurang tepat tersebut dengan mengatakan "Nah itu benar, hanya saja di bagian ini kurang sedikit dijelaskan yah, bahwa seni rupa lukisan patung Jenderal Sudirman ini masih berupa karya seni rupa 2D...".


4. Scaffolding

Istilah scaffolding ini sangat erat kaitannya dengan dunia pembangunan atau kontruksi. Istilah dalam Bahasa Indonesia dari Scaffolding ini biasa disebut sebagai perancah. Perancah merupakan peralatan konstruksi yang dibangun sementara sebagai penyangga tenaga kerja, material dan peralatan dalam pekerjaan konstruksi bangunan (Menkertrans, No. PER.01/MEN/1980). Jenis-jenis perancahpun berbeda-beda sesuai ketinggian bangunan juga. Analogi yang sama dalam dunia pengajaran, seorang guru harus membimbing peserta didik secara bertahap ketika menjelaskan suatu konsep yang lumayan sulit untuk dijelaskan. Misalnya, ketika dalam sebulan tersebut peserta didik harus memahami verb 1, verb 2, dan verb 3, di minggu pertama mereka harus memahami perbedaan secara umum verba tersebut, penggunaan dalam konteksnya, dan menjelaskan verb 1 terlebih dahulu. Kemudian, di minggu kedua kita dapat menjelaskan verb 2 dan mencampurkannya dengan verb 1 dalam sebuah paragraf. Selanjutnya, di minggu ke-3, kita dapat membahas verb 3 dan mencampurkannya dengan verb 1 serta verb 2 dalam sebuah paragraf atau dialog. Di minggu terakhir, guru meminta anak-anak untuk menulis sebuah teks yang melibatkan verb 1, verb 2, dan verb 3. Cara tersebut sudah sesuai dengan apa yang Dr. Shane Dixon sarankan, yaitu dengan mengikuti tiga langkah dasar dalam scaffolding, yaitu memberikan gambaran umum dan contohnya (modelling behavior), kemudian melakukan bimbingan setiap minggunya (guided practice), sampai di minggu terakhir mereka melakukan praktik tanpa dibimbing untuk mengecek kemampuan dan pemahaman mereka terhadap materi yang sudah disampaikan (independent practice).


Itulah beberapa teknik yang dapat kita gunakan ketika mengajar di kelas agar peserta didik dapat memahami materi lebih baik. Informasi di atas sebenarnya masih belum begitu spesifik, tetapi setidaknya sahabat Caravel mengetahui penjelasan-penjelasan umum di atas sebagai referensi untuk mempelajarinya lebih dalam lagi dari sumber yang lainnya. Mungkin suatu saat admin Caravel juga akan memeberikan penjelasan lebih spesifik untuk setiap poin-poin di atas tadi. So, stay tuned ya untuk postingan-postingan selanjutnya. Have a good one! 😁


References


Berry, J., & Sahlberg, P. (1996). Investigating pupils' ideas of learning. Learning and Cognition, 6(1), 19 ± 36.


Dixon, S., Haraway, A. M., Gracia, E., Shewell, J., & Cinco, J. (n.d.). Arizona State University TESOL. Coursera. https://www.coursera.org/professional-certificates/arizona-state-university-tesol.


Ezeh, N. G., Anidi, O. C., & Nwokolo, B. O. (2021). Body Language as a Communicative Aid amongst Language Impaired Students: Managing Disabilities. English Language Teaching, 14(6), 125-134.


Kruse, K. (2009). Gagne's nine events of instruction: An introduction. Retrieved the, 10.


Menakertrans. (1980). Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER.01/MEN/1980 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan. Retrieved from https://sibima.pu.go.id/pluginfile.php/41954/mod_resource/content/1/06.%20Permenakertrans%20No.%201%20Tahun%201980%20tentang%20K3%20pada%20Konstruksi%20Bangunan.pdf 


Paris, S.G., & Oka, E.R. (1986). Children's reading strategies, metacognition, and motivation. Developmental Review, 6, 25 ± 56.


Rahmani, A., Muslem, A., & Daud, B. (2021). Teacher talk of praises in English classroom interaction. English Education Journal, 12(1), 141-162.


Thomas, G.P., & McRobbie, C.J. (1999). Using metaphor to probe students' conceptions of chemistry learning. International Journal of Science Education, 21(6), 667 ± 685.


Thomas, G. P., & McRobbie, C. J. (2001). Using a metaphor for learning to improve students' metacognition in the chemistry classroom. Journal of Research in Science Teaching: The Official Journal of the National Association for Research in Science Teaching, 38(2), 222-259.

No comments:

Post a Comment

Pages