Kenangan & Keseruan Angkatan ke-204 LPDP, Nyala Bentala

 


Dengan penuh kesabaran dan dedikasi, saya telah melewati fase panjang mengurus dokumen-dokumen dan memenuhi berbagai persyaratan. Mulai dari tahap melamar beasiswa LPDP hingga persiapan matang untuk keberangkatan, perjalanan ini sungguh tak terlupakan. Meski masih ada beberapa hal yang harus saya selesaikan sebelum mendarat di Finlandia pada bulan Agustus nanti, saya tak sabar untuk menceritakan pengalaman saya selama mengikuti sebuah acara yang tak bisa dilewatkan oleh para penerima beasiswa LPDP, yaitu persiapan keberangkatan angkatan ke-204. Saya dengan bangga menyebut diri saya sebagai salah satu peserta dari Persiapan Keberangkatan (PK) Angkatan ke-204 di LPDP, dan acara ini telah memberikan begitu banyak pengalaman berharga bagi saya.


Zoom Meeting sebelum Kegiatan PK-204

Serunya Pra-PK dan Segudang Tugasnya!

Dalam momen yang benar-benar semangat dan gembira, saya dengan mulai mengunggah LoA Unconditional dari kampus di aplikasi e-beasiswa. Pikiran saya langsung terpenuhi dengan bayangan bertemu dengan banyak teman-teman yang berlatar belakang profesi, wilayah, dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Dalam benak saya, keinginan untuk berjumpa segera dan berbagi pengalaman dengan mereka meluap begitu kuat, karena momen ini sungguh penting untuk memperluas jaringan sosial, atau dalam bahasa bisnis disebut "networking". Dan sungguh, harapan itu ternyata menjadi kenyataan.


Namun, ada satu hal yang benar-benar luar biasa di tengah kesibukan kita, yakni tugas-tugas yang sangat banyak, terutama bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan akan lebih terasa sekali tantangannya. Begitu banyaknya tugas yang harus dijalankan, sampai tugas tersebut dibagi ke dalam tiga kategori utama: tugas angkatan, tugas kelompok, dan tugas individu. Saya menulis artikel ini pun adalah salah satu bagian dari tugas individu. 😂


Sebagai seorang yang ingin bergabung dengan keluarga LPDP, acara ini adalah suatu keharusan. Meski kebijakan ini bisa saja berubah di masa depan, yang perlu kita ingat adalah tujuan dari persiapan keberangkatan ini sendiri yang mana memupuk rasa nasionalisme dan cinta terhadap negara kita sendiri. Sebagaimana yang kita ketahui, ada beberapa dari mereka yang tak lagi ingat jalan pulangnya, melupakan siapa yang telah membantu mereka mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Rasanya memilukan, namun itulah faktanya, dan acara ini menjadi salah satu upaya dari LPDP untuk menanamkan moral bahwa kita bertanggung jawab pada negara kita sendiri, negara tempat kelahiran kita.


Pagi, Siang, dan Malam selalu Disambut Makanan Enak 😂

Sudahlah, Enak! Kurang Apalagi?

Hal yang selanjutnya perlu kita ingat adalah tentang perjuangan yang akhirnya terbayarkan. Terutama bagi kita yang sedang berjuang untuk meraih beasiswa LPDP, teruslah melangkah maju, karena pada akhirnya semua jerih payah akan membuahkan hasil yang terbaik. Bagi mereka yang sudah menjadi awardee LPDP, marilah kita bersyukur dan memikirkan cara untuk membalas kebaikan negara ini dengan meneruskan cita-cita pendidikan kita.


Lebih lanjut lagi, dalam acara Persiapan Keberangkatan ini, pengalaman yang saya rasakan sungguh luar biasa. LPDP telah menyediakan segala fasilitas, mulai dari transportasi hingga akomodasi, yang menambah pengalaman ini menjadi lebih memuaskan. Terus, apa yang seharusnya kita lakukan? Nah, jawabannya sederhana, berjuang semaksimal mungkin, terutama bagi kita yang berasal dari latar belakang ekonomi yang terbatas, termasuk diri saya sendiri. Momen ini adalah saat yang berharga di mana pemuda dan pemudi bersatu untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Oleh karena itu, janganlah kita malah merasa minder dan insecured, justru di sinilah peluang suara kita lebih bisa didengarkan lagi. Jadi, manfaatkan momen-momen ini sebaik mungkin.


Salah satu hal yang benar-benar saya nikmati selama acara ini adalah hidangan makanan yang tak pernah habis. Setiap waktu, saya disajikan dengan berbagai hidangan lezat, baik di pagi, siang, maupun malam. Dan yang membuatnya semakin menarik, menu makanannya sangat beragam. Jadi, apa lagi yang bisa kita minta? Intinya, kita harus terus berjuang untuk meningkatkan diri dan yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Ingatlah, yang terbaik bagi kita bukan hanya sekedar menikmati kenikmatan semata, tetapi juga menghargai kegagalan yang pernah kita alami, karena dari situlah kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh.


Pembukaan Kegiatan LPDP oleh Bapak Andin Hadiyanto

Ilmunya Gak Kalah Mantap!

Selanjutnya, bukan hanya masalah fasilitas semata, tetapi ilmu yang saya peroleh dari para tamu pembicara benar-benar memberikan perspektif baru untuk saya. LPDP telah berhasil mengundang pembicara-pembicara hebat dengan latar belakang yang luar biasa dan keahlian di bidang masing-masing. Saat acara ini berlangsung, saya berkesempatan mendengarkan Bapak Amir Arief, seorang direktur sosialisasi dan kampanye anti korupsi yang tidak hanya berbicara dengan penuh keberanian, tetapi juga menginspirasi saya dengan pesan-pesan tegasnya. Terlebih lagi, konten yang disampaikannya begitu relevan dengan semangat bela negara.


Tak hanya itu, Bapak Teten Masduki, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, turut berbagi pengetahuannya mengenai dasar-dasar berwirausaha dan pentingnya profesi ini dalam mewujudkan Indonesia emas pada tahun 2045. Materi yang dia sampaikan sangat berkaitan dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Pak Yanuar Nugroho, yang mana beliau merupakan seorang komite reviewer LPDP. Beliau menegaskan bahwa kita sekolah untuk hidup, dan kata-kata ini benar-benar mencerminkan realitas kehidupan, di mana kita akan bekerja dan mencari nafkah untuk bertahan hidup.


Acara ini memberikan saya kesempatan emas untuk memperoleh wawasan baru dan memperluas pemahaman saya tentang pentingnya perjuangan dalam membangun negara. Melalui para pembicara yang menginspirasi dan materi yang relevan, saya merasa terpacu untuk menjadi agen perubahan yang berdedikasi bagi Indonesia. LPDP telah memberikan pengalaman yang tak terlupakan, yang tak hanya memberi saya ilmu, tetapi juga membangkitkan semangat dalam diri untuk berkontribusi dalam memajukan bangsa ini.


Setelah penjelasan di atas tentang bagaimana saya menggambarkan perjalanan dari pra-PK dan pengalaman saya dalam acara ini, berikut adalah beberapa poin reflektif yang menjadi pelajaran berharga bagi saya.


1. Belajar Sabar dengan Sistem

Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah pentingnya memiliki kesabaran yang kuat terhadap beberapa sistem pembelajaran di negara kita. Khususnya, saya menemukan bahwa setiap sesi pembahasan mengenai topik tertentu memakan waktu sekitar 2 jam. Meskipun durasi waktu itu sebenarnya tidak menjadi masalah, tantangan sebenarnya terletak pada metode penyampaian materi yang dilakukan dari pukul 7 pagi hingga pukul 9 malam. Meskipun para peserta LPDP diberi waktu istirahat setelah setiap sesi, namun waktu istirahat yang singkat tidak cukup bagi peserta untuk benar-benar menyegarkan pikiran mereka. Menurut pandangan saya, durasi waktu bukanlah masalah asalkan metode penyampaian yang digunakan beragam dan tidak hanya terpaku pada ceramah yang membuat peserta semakin mengantuk seiring berjalannya waktu. Saya pikir hal ini juga sangat dipengaruhi oleh siapa yang menjadi pembicara dan nada berbicara dari pembicara tersebut. Sebagai alternatif, memberikan jeda istirahat yang cukup, tanpa terlalu singkat, dapat menjadi solusi yang lebih baik. Bagaimanapun hal ini sedikit disayangkan karena saya menganggap setiap pembicara memiliki pengetahuan berharga dan penting yang ingin saya dapatkan, namun kadang rasa kantuk tiba-tiba muncul, terutama bagi beberapa teman saya yang kurang tidur.


2. Jiwa si ENTJ Ketika Bersosialiasi

Pernahkah kalian mendengar tentang tes kepribadian MBTI? Tes ini sangat menarik untuk mengetahui pola perilaku seseorang. Meskipun kita semua tahu bahwa psikologi manusia sangat kompleks, tetapi setidaknya dengan mengetahui tipe kepribadian, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri dan orang lain. Saya pribadi memiliki tipe kepribadian ENTJ, yang menggambarkan individu yang sangat ekstrovert namun juga memiliki kecenderungan introvert atau dalam Bahasa Inggris-nya the most introverted extrovert. Dalam kenyataannya, saya telah beberapa kali menjalani tes ini dan hasilnya menunjukkan perbedaan tipis antara ekstrovert dan introvert, sehingga dapat dikategorikan sebagai tipe kepribadian ambivert.


Tipe kepribadian ini sangat menjadi tantangan menarik karena seringkali saya mengalami perubahan mood dalam berinteraksi dengan orang lain. Saya menyadari bahwa saya tidak dapat bertahan lama dalam kesendirian karena energi saya membutuhkan interaksi dengan orang lain. Namun, pada saat yang bersamaan, ketika saya berinteraksi dengan orang lain, saya seringkali merasa terkuras dan berkeinginan untuk menyendiri. Hal ini menjadi tantangan besar bagi saya sebagai seorang ambivert. Ketika saya pertama kali bergabung dalam kegiatan ini, saya bertemu dengan banyak teman dari berbagai wilayah di Indonesia. Awalnya, saya merasa sangat antusias dan mulai berkenalan dengan mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasakan bahwa energi saya cepat terkuras ketika berbincang dengan mereka, dan pada akhirnya, saya merasa ingin menyendiri di kamar. Pada beberapa kesempatan, saat makan pagi, siang, atau malam, saya kadang memilih untuk makan sendiri dan menarik diri dari keramaian, karena kurangnya energi untuk berinteraksi dengan mereka. Namun, dalam beberapa kesempatan juga saya sering ikut berkumpul dengan teman-teman lainnya dan ikut mengobrol apa saja.


Kepribadian ambivert saya memberikan pengalaman yang menarik dan kompleks dalam berinteraksi dengan orang lain. Meskipun terdapat tantangan dalam menjaga keseimbangan energi, saya tetap berusaha memahami diri sendiri dan menghargai kebutuhan saya akan waktu sendiri. Tes kepribadian MBTI dan kesadaran akan tipe kepribadian saya telah memberikan wawasan dalam memahami dan mengelola interaksi sosial dengan lebih baik.


3. Percaya, Gak Percaya!

Hal pertama yang membuat saya merasa takjub namun bersyukur sekaligus sulit dipercaya adalah ketika saya mengetahui bahwa beberapa teman saya telah menyelesaikan pendidikan S2 dan melanjutkan ke jenjang doktoral. Awalnya, saya benar-benar terkejut, bahkan teman sekamar saya ternyata seorang dosen yang tengah mengejar gelar doktoral. Peserta LPDP di sini sungguh luar biasa, semangat mereka begitu menggebu seolah tak mengenal usia. Mereka yang lebih senior pun terlihat sama semangatnya dengan teman-teman seumuran. Bahkan, saya pernah bertemu dengan seorang teman dari Batam yang pada awalnya saya kira berusia 23 atau 22 tahun, ternyata usianya sudah mencapai 29 tahun. Sungguh lucu dan mengejutkan, karena penampilannya begitu muda dan semangatnya benar-benar masih seperti orang 22 tahunan. 😂


Selanjutnya, momen yang membuat saya merasakan campuran rasa percaya dan tidak percaya adalah saat saya mulai menjelajahi hal-hal baru, termasuk pengalaman mencoba panahan. Sebelumnya, olahraga semacam itu belum pernah saya coba di kampung halaman saya. Namun, dalam kegiatan PK ini, saya memberanikan diri mencobanya dan kenyataannya sungguh menyenangkan. Terus terang, saya merasa tertarik dengan panahan dan bisa memahami mengapa Rasulullah suka melakukannya.


Pada intinya, walaupun kegiatan PK ini berlangsung sebentar, namun benar-benar meninggalkan kenangan tak terlupakan dan memberikan berbagai pengetahuan baru bagi saya. Bahkan, ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Ancol, Jakarta. Sampai jumpa di cerita berikutnya! PK 204! Nyala bentala... Menyala! Siap berkarya!

4 comments:

  1. Seru banget blognya massss 🤣 sukses mas studinyaaa!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduuuh! Dikomen sama orangnya, jadi maluuu wkwkw... Makasiih Mbak Qis! Much success juga buat studinya mbak. Stay in touch pokoknya hihi

      Delete
  2. Ka apa tiket keberangkatan dan pulang PK ditanggung LPDP?Krna bbrp kok ada ygmengatakan tidakditanggung mohon penjelasanya trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, kak. Ditanggung kok, kak. Pada waktu itu, di angkatan saya harus memakai uang sendiri dulu dan jangan lupa harus disimpan dengan baik boarding passnya karena nanti akan diminta pas di kegiatan PK-nya oleh salah satu panitia di sana. Nah, nanti ada pembagian amplop lumpsum gitu dan bahkan uangnya lebih dari uang transportasi saya. Ternyata, uang ini dianggap sebagai insentif juga karena telah mengikuti kegiatan PK ini. Itu sih pengalaman saya dulu.

      Delete

Pages