Cara Menyesuaikan Informasi dengan Kebutuhan Akademik Kita


Setelah di artikel sebelumnya kita membahas tentang Cara Mengevaluasi Informasi secara Kritis, di artikel ini sobat Caravel akan mempelajari lebih dalam lagi bagaimana cara menyesuaikan informasi sesuai kebutuhan kita ketika kuliah. Di sini, mimin Caravel akan coba memberikan salah satu contoh situasi. Coba perhatikan di bawah ini:

Situasi: Sobat Caravel ingin membeli makanan secara daring ketika sedang turun hujan dan udara dingin sekali. Jika sobat sangat menginginkan 3 pilihan utama makanan di bawah ini, tetapi uang hanya cukup untuk satu jenis makanan saja. Makanan manakah yang paling cocok untuk sobat?

  • Es krim (sudah ada rekomendasi dan terpercaya)
  • Gehu pedas (sudah ada rekomendasi orang lain, tetapi terkadang menyebabkan sakit perut untuk beberapa orang)
  • Mie Bakso (direkomendasikan oleh teman-teman kita)

Jika kita memilih yang pertama, Es krim merupakan makanan kurang cocok saat hujan. Jadi, kita dapat mengeliminasi pilihannya dengan pertimbangan tersebut. Seterusnya, kita dihadapkan dua pilihan yang sama-sama cocok di musim hujan dan kedua makanan tersebut juga sudah ada rekomendasi dari orang-orang. Tentunya, kita akan mengeliminasi pilihan Gehu Pedas karena kita tidak ingin terkena resiko sakit perut. Terakhir, kita memutuskan untuk membeli Bakso karena sudah relevan baik secara kebutuhan dan rekomendasi positif dari orang-orang juga.

Dari kasus tersebut, kita dapat mengamati sendiri bahwa tingkat kredibilitas juga belum cukup, kita harus menentukan pilihan yang memang sesuai dengan situasi dan benar-benar kita perlukan. Lebih lanjut, di bawah ini kita akan mempelajari cara-cara untuk menyesuaikan informasi dengan kebutuhan kita selama kuliah.



1. Apakah informasi yang dicari tersebut berkaitan dengan topik atau pertanyaan yang tersedia? (Schaub, McClure, & Bravender, 2015)

Sebagian dari kita biasanya ketika mencari Informasi, kita akan mencari yang memang benar-benar secara keseluruhan berhubungan dengan topik atau pertanyaan yang sudah tersedia. Misalnya, kita mendapatkan sebuah referensi studi kasus tentang e-Profesionalisme Dokter di Jerman untuk menjawab pertanyaan studi kasus yang kita lakukan di Indonesia. Kita dapat menggunakan sumber tersebut untuk mencari informasi di bagian jurnal tersebut yang bisa membantu melengkapi studi kita, salah satu contohnya, yaitu referensi dalam pengambilan datanya.

Selain itu, kita juga mungkin menemukan informasi dalam bentuk sub-topik. Maksud dari subtopik di sini, yaitu informasi yang bisa menjawab topik atau pertanyaan kita. Untuk contohnya, coba perhatikan salah satu pertanyaan kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris berikut.


Jelaskan bagaimana media sosial dapat mengembangkan profesi guru?

Ketika kita mencari informasi untuk menjawab pertanyaan di atas, biasanya kita mencari informasi dari jurnal yang memang membahas dengan kata kunci antara "media sosial" dan "profesi guru". Namun, untuk menjawab pertanyaan tersebut, masih ada alternatif lainnya seandainya dua variabel tersebut sulit dicari atau masih sedikit sumber yang membahas topik spesifik tersebut, caranya, yaitu dengan mencari sub-topik yang masih relevan. Misalnya, kita menemukan jurnal tentang "e-profesionalisme dari perspektif mahasiswa jurusan Farmasi", kemudian setelah membaca artikelnya, kita mulai memahami bahwa pengaruh reputasi positif atau negatif di internet bukan hanya dirasakan oleh mahasiswa Famasi saja, tetapi secara umum dapat dirasakan oleh orang yang sudah bekerja juga, dalam hal ini seseorang yang berprofesi sebagai pendidik. Jadi, sumber tersebut masih dapat menjadi alternatif jawaban kita atau poin tambahan setelah artikel yang paling relevan sudah disebutkan ketika menjawab pertanyaan.



2. Apakah sumber tersebut memenuhi kebutuhan tugasmu? (Schaub et al., 2015)

Di poin ini, sangat berkaitan sekali dengan postingan sebelumnya, yaitu tentang Membedakan Sumber-sumber Primer, Sekunder, dan Tersier. Untuk beberapa tugas mungkin masih bisa mencari sumber jawaban hanya dengan mencari dari buku catatan-catatan kuliah kita. Namun, dalam beberapa tugas ada juga yang menuntut kita untuk melakukan pencarian lebih rinci. Ketika melakukan pencarian sumber informasi ini, jika kita menemukan sumber informasi primer, pertimbangkan apakah sumber tersebut cocok untuk menjawab bidang studi yang kita ambil. Jika kita mencari sumber sekunder dan tersier, pertimbangkan keilmiahan sumber tersebut untuk menentukan apakah informasi tersebut cocok berada di dalam lingkungan akademik atau tidak.



3. Apakah informasi tersebut ditulis dengan tingkatan yang sesuai (tidak terlalu dasar dan tidak juga terlalu tinggi)? (Schaub et al., 2015)

Selanjutnya, yaitu mempertimbangkan tingkat kesulitan dari konten bacaan. Cara yang paling mudah untuk menentukan tingkat kesulitan isi bacaan, yaitu dengan cara mencari untuk siapa target audiens dari informasi tersebut, apakah untuk anak-anak, remaja, orang tua, mahasiswa atau guru. Dengan kata lain, siapa pembacanya akan menentukan tingkat kesulitan dari informasinya. Lebih lanjut, kesulitan isi bacaan paling umum yang kita seringkali temukan adalah istilah-istilah yang hanya ada dalam program studi tertentu dan kerumitan dari konsep yang dibahas dari sumber tersebut. Contoh riilnya, ketika kita membaca buku anak-anak, kosa kata yang ketahui lebih banyak, tetapi jika kita membaca jurnal-jurnal penelitian akan lain lagi halnya. Semua istilah-istilah khusus dalam jurnal penelitian tersebut seakan-akan meminta kita untuk fokus mengetahui arti dari istilah-istilah tersebut terlebih dahulu sebelum membaca kontennya.



4. Apakah informasi terkeskplor dengan baik (tidak terlalu umum dan tidak juga terlalu spesifik)? (Schaub et al., 2015)

Ketika menjawab tugas perkuliahan kita juga harus mempertimbangkan apakah bacaan tersebut membahas suatu topik yang mana terlalu umum atau bahkan sebaliknya, terlalu spesifik. Intinya, kita harus menyesuaikan dengan konteks. Misalnya, ketika kita menggunakan sumber informasi tersier untuk menjawab sebuah pertanyaan, seperti ensiklopedia, sumber tersebut dapat menyediakan informasi yang relevan, membantu kita untuk memahami topik secara keseluruhan, dan bahkan menyediakan definisi-definisi istilah dari ensiklopedia tersebut. Namun, menggunakan informasi tersier tersebut untuk dimasukkan ke dalam argumen utama kita akan menjadi terlalu umum ketika menjawab tugas. Di sisi lain, ada juga beberapa tugas yang mana kita hanya perlu menuliskan apa yang kita pahami dan melibatkan kutipan di dalamnya. Apabila kita memasukkan sumber primer di dalam tugas ini akan menjadi terlalu spesifik bahkan mengandung istilah-istilah yang baru untuk kita dan pembaca juga, hal tersebut hanya akan memerlukan penjelasan lebih panjang lagi. Jadi, menggunakan informasi sekunder dan tersier sudah cukup dalam hal ini.


Referensi


Olston, C. (n.d.). Academic Skills for University Success. Coursera. https://www.coursera.org/specializations/academic-skills.

Schaub, G., Bravender, P., & McClure, H. (2015). Teaching information literacy threshold concepts: Lesson plans for librarians. Chicago: Association of College and Research Librarians.

No comments:

Post a Comment

Pages